Rabu, 29 Agustus 2012

Jepang Lebih Mengakomodir Pendidikan Islam Ketimbang Belanda


SEBUAH CATATAN DARI MASA PENJAJAHAN

Pendidikan Islam di Indonesia pada mulanya didasarkan pada sistem kedaerahan dan tentu saja tidak terkoordinir dan terpusat seperti sekarang ini, sebab tiap-tiap daerah berusaha melancarkan pendidikan dan pengajaran Islam menurut daerahnya masing-masing. Karenanya pendidikan Islam antara daerah yang satu dengan daerah yang lain akan berbeda, misalnya di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan sebagainya.

Kondisi seperti itu sebelum orang-orang Barat datang pertama kali dan menjamah bumi Nusantara ini. Meskipun dalam keadaan seperti itu ternyata Islam dapat tersebar luas dan dipeluk sebagian besar atau mayoritas penduduk Nusantara, bahkan agama Islam pernah menjadi agama resmi pada masa kerajaan Pasai di Aceh abad ke-13 dan Kerajaan Demak di Jawa Tengah akhir abad ke 15 M.
Usaha penaklukan yang dilakukan  oleh bangsa Barat (Spanyol, Portugis,  Inggris, Belanda) atas dunia timur dimulai dengan jalan perdagangan, yang kemudian dilanjutkan dengan menggunakan kekuatan militer. Mereka mengenal dunia timur sebagai penghasil rempah-rempah yang sangat mereka perlukan. Untuk itulah mereka berlomba untuk mendapatkannya.       
Sebagai rentetan dari peristiwa kedatangan orang-orang Barat ke Timur, pada tahun 1596 orang Belanda merapatkan kapalnya di pelabuhan Banten yang dipimpin oleh Cornelis De Houtman dan De Keyzer. Kehadiran Belanda  yang membawa misi ganda yaitu imperialis dan kristenisasi, justru sangat merusak dan menjungkir balikkan tatanan yang sudah ada. Tidak heran jika pada waktu itu di berbagai daerah timbul pemberontakan melawan penjajah.
Tulisan ini akan memaparkan keadaan pendidikan Islam pada masa penjajahan, baik semasa kolonial maupun pada masa Jepang, yang diperkirakan sudah barang tentu sangat berbeda dengan pelaksanaan pendidikan Agama Islam sekarang ini.

A. Zaman Belanda
Sejak tersebarnya Islam di Nusantara, banyak berdiri mesjid-mesjid. Di samping sebagai tempat ibadah, mesjid  juga dijadikan  sebagai pusat kegiatan (pendidikan) Islam. Dengan demikian jenis pendidikan agama di awal-awal berkembangnya Islam di Indonesia adalah nonformal, yang kian hari kian bertambah seiring dengan pertambahan jumlah mesjid.
Sesuai tempatnya  di   mesjid,  pelaksanaan   pendidikan agama Islam banyak dalam bentuk pengajian dengan maksud dan tujuan, untuk mengajak manusia berbuat baik, yaitu patuh mengerjakan agama secara sungguh-sungguh, dalam arti mengerjakan apa yang diperintahkan dan meninggalkan  apa yang dilarang-Nya, dan untuk menjaga tradisi, maksudnya sesuatu yang dianggap penting dan diperlukan oleh keluarga dan masyarakat, harus diturunkan dan diajarkan kepada anak cucu secara turun temurun sebagai regenerasi.
Adapun metode yang digunakan oleh para penyebar agama Islam saat itu menggunakan berbagai cara yang ditempuh, di antaranya adalah melalui : ceramah atau nasihat langsung, teladan yang baik dan media kesenian serta permainan. Mengenai metode yang terakhir ini, di daerah Jawa kesenian wayang dianggap paling efektif, begitu pula dengan gamelan sekaten.
Kedatangan bangsa Barat di satu pihak memang telah membawa kemajuan di bidang pendidikan. Mereka telah memperkenalkan sistem dan metode baru dan tentu saja lebih efektif. Namun di pihak lain, apa yang dilakukan itu tidak lebih dari sekedar untuk menghasilkan tenaga-tenaga yang dapat membantu kepentingan penjajah. Apa yang mereka sebut pembaharuan pendidikan, tidak lain adalah westernisasi dan kristenisasi yang untuk kepentingan Barat dan Nasrani. Dua motif inilah yang mewarnai kebijaksanaan penjajahan Balanda di Indonesia yang berlangsung selama 3,5 abad. 
Di dalam dada penjajah tersebut begitu kuatnya ajaran politikus curang dan licik Machiavelli, yang antara lain mengajarkan : 1. Agama sangat diperlukan bagi pemerintah penjajah (kolonial); 2. Agama tersebut dipakai untuk menjinakkan dan menaklukkan rakyat; 3. Setiap aliran agama yang dianggap palsu oleh pemeluk agama yang bersangkutan harus dibawa untuk memecah belah dan agar mereka berbuat untuk mencari bantuan kepada pemerintah; 4. Janji dengan rakyat tak perlu ditepati jika merugikan; dan 5. Tujuan dapat menghalalkan segala cara.
Penjajah Belanda mengeluarkan kebijaksanaan yang mengatur jalannya pendidikan, yang tentu saja untuk kepentingan mereka sendiri terutama untuk kepentingan agama Kristen. Ketika Van De Boss menjadi Gubernur Jenderal di Jakarta pada tahun 1831, keluarlah kebijaksanaan bahwa sekolah Gereja dianggap penting dan diperlukan sebagai sekolah pemerintah. Sedang Departemen yang mengurus pendidikan dan keagamaan dijadikan satu. Sementara di setiap daerah Karesidenan didirikan satu sekolah Agama Kristen.
Mengenai inisiatif untuk mendirikan lembaga pendidikan bagi penduduk pribumi adalah ketika Van De Capellen menjabat sebagai Gubernur Jenderal. Pada waktu itu keluar surat Edaran yang ditujukan kepada seluruh Bupati, yang isinya adalah : “Dianggap penting untuk secepatnya mengadakan peraturan pemerintah yang menjamin meratanya kemampuan membaca dan menulis bagi penduduk pribumi agar mereka lebih mudah untuk dapat menaati undang-undang dan hukum negara yang diterapkan Belanda.” Sedangkan pendidikan Agama Islam yang telah ada baik di mesjid/mushalla maupun di pesantren atau yang lainnya dianggap tidak membantu pemerintah Belanda. Para santri pondok masih dianggap buta huruf latin, yang secara resmi menjadi acuan pada waktu itu.
Politik Belanda terhadap rakyat Indonesia yang mayoritas beragama Islam sebenarnya didasari oleh adanya rasa ketakutan, rasa panggilan agamanya (Kristen) dan rasa kolonialismenya. Dengan begitu mereka menerapkan berbagai peraturan kebijakan, di antaranya : 1. Pada tahun 1882 pemerintah Belanda membentuk suatu badan khusus untuk mengawasi kehidupan beragama dan pendidikan Islam yang mereka sebut Priesterraden. Dari badan inilah maka pada tahun 1905 pemerintah Belanda mengeluarkan peraturan baru yang isinya bahwa orang yang memberikan pengajaran atau pengajian agama Islam harus terlebih dahulu meminta izin kepada pemerintah Belanda; 2. Tahun 1925 keluar lagi peraturan yang lebih ketat terhadap pendidikan agama Islam yaitu bahwa tidak semua orang (kiai) boleh memberikan pelajaran mengaji terkecuali telah mendapat semacam rekomendasi atau persetujuan pemerintah Belanda; 3. Kemudian tahun 1932 keluar lagi peraturan yang isinya berupa kewenangan untuk memberantas dan menutup madrasah dan sekolah yang tidak ada izinnya atau memberikan pelajaran yang tidak disukai oleh pemerintah Belanda, yang disebut Ordonansi Sekolah Liar (Wilde School Ordonantie).
Dalam rangka penekanan terhadap Islam dan pendidikan Islam, berbagai usaha ditempuh pihak Belanda, antara lain: mempelajari dengan sebaik-baiknya secara mendalam dan ilmiah di negeri Belanda hal ihwal pribumi dan Islam di Indonesia, yang akhirnya menjadi suatu disiplin ilmu khusus yang disebut dengan indologi; menerapkan nasihat Snouck Hurgronje menjadi kebijaksanaan pemerintah Hindia Belanda terhadap Islam di Indonesia. Inti dari nasihat atau saran Snouck Hurgronje ialah :
Menyarankan kepada pemerintah Hindia Belanda agar netral terhadap agama yakni tidak campur tangan dan tidak memihak kepada salah satu agama yang ada (tapi tampaknya hal ini hanya bersifat teori belaka, sebab faktanya tidaklah demikian). Menurutnya, fanatisme Islam itu akan luntur sedikit demi sedikit melalui proses pendidikan secara evolusi.
Pemerintah Belanda diharapkan dapat membendung masuknya Pan Islamisme yang sedang berkembang di Timur Tengah, dengan jalan menghalangi masuknya buku-buku atau brosur lain dari luar ke wilayah Indonesia, mengawasi kontak langsung dan tidak langsung tokoh-tokoh Islam Indonesia dengan tokoh luar, serta membatasi dan mengawasi orang-orang yang pergi ke Mekkah, dan bahkan kalau memungkinkan melarangnya sama sekali. Karena dikhawatirkan pengalaman yang ia dapatkan di luar akan dibawa pulang ke Indonesia dan mempengaruhi kelanggengan kekuasaan kolonial.
Jika dilihat demikian ketatnya peraturan-peraturan pemerintah Belanda, tampaknya dalam waktu tidak lama, niscaya pendidikan Islam akan menjadi lumpuh dan porak peranda. Akan tetapi kenyataannya justru sebaliknya. Apa yang disarankan oleh Snouck Hurgronje ternyata banyak yang meleset. Banyak tokoh-tokoh agama Islam di Indonesia yang mendapatkan brosur-brosur dan majalah-majalah terlarang dari Timur Tengah dan negara-negara Islam lainnya, atau dalam bentuk pengaruh yang lain. Kenyataan lainnya adalah orang-orang Islam yang berpendidikan Barat pun tidak kehilangan identitasnya sebagai muslim, justru mempertebal keyakinan agama dan memperkokoh nasionalisme mereka.
Oleh sebab itu benar sekali apa yang dikemukakan oleh Wertheim bahwa apa pun politik terhadap Islam yang akan dilancarkan oleh kekuasaan non-Islam, hasilnya senantiasa berbeda dari apa yang ingin dikejar kekuasaan tersebut.
Untuk melihat perkembangan pendidikan Islam pada zaman penjajahan Belanda, para ahli telah membuat semacam periodesasi, yaitu :

1.        Pendidikan Islam Sebelum Tahun 1900
Sebelum tahun 1900, kita mengenal pendidikan Islam secara perorangan, secara rumah tangga dan secara surau/ langgar atau mesjid. Pendidikan secara perorangan dan rumah tangga itu lebih mengutamakan pelajaran praktis, misalnya tentang ketuhanan, keimanan dan masalah-masalah yang berhubungan dengan ibadah. Pemisahan mata pelajaran tertentu belum ada dan pelajaran yang diberikan pun belum lagi secara sistematis.
Sedangkan pendidikan surau mempunyai dua tingkatan yaitu : pelajaran Al Quran dan pengkajian kitab.  Mula-mula anak belajar mengaji, setelah selesai dilanjutkan dengan pengkajian kitab meliputi ilmu sharaf, nahwu, tafsir dan lain-lain.
Ciri pendidikan pada masa ini adalah : a. Pelajaran diberikan satu demi satu; b. Pelajaran ilmu sharaf didahulukan dari ilmu nahwu; c. Buku pelajaran pada mulanya dikarang oleh ulama Indonesia dan diterjemahkan ke dalam bahasa daerah setempat; d. Kitab yang digunakan umumnya ditulis tangan; e. Pelajaran suatu ilmu, hanya diajarkan dalam satu macam buku saja; f. Toko buku belum ada, yang ada hanyalah menyalin buku dengan tulisan tangan; g. Karena terbatasnya bacaan, materi ilmu agama sangat sedikit; dan h. Belum lahir aliran baru dalam Islam.
Pada priode ini memang sulit untuk menentukan secara pasti kapan dan di mana surau atau langgar dan pesantren yang pertama kali berdiri. Kendati demikian dapat diketahui bahwa pada abad ke 17 Masehi di Jawa telah terdapat pesantren Sunan Bonang di Tuban, Sunan Ampel di Surabaya, Sunan Giri di Sidomukti Giri dan sebagainya. Namun sebenarnya jauh sebelum itu telah ada sebuah pesantren di hutan Glagah Arum (sebelah selatan Jepara) yang  didirikan Raden Fatah pada tahun 1475 M.  Sementara itu di Sumatera, tempat pengajian berupa surau jauh sebelum itu sudah dikenal. Akan tetapi sebagai dibutkan di atas, terlalu sulit untuk mengetahui secara pasti tahun berapa dan di mana itu berdiri.
2.        Pendidikan Islam pada Masa Peralihan ( 1900 – 1908 )
Jika pada priode sebelumnya, lembaga-lembaga pendidikan Islam masih relatif sedikit dan berlangsung secara sederhana, namun setelah itu yang disebut priode peralihan telah banyak berdiri tempat-tempat pendidikan terkenal di Sumatera, seperti Surau Parabek di Bukit Tinggi (1908) yang didirikan oleh Syeikh H.Ibrahim Parabek dan di Pulau Jawa seperti Pesantren Tebuireng, namun sistem madrasah masih belum dikenal.
Priode pralihan ini bolh dikatakan dipelopori oleh Syeikh Khatib Minangkabau dan kawan-kawan yang banyak mendidik dan mengajar di Mekkah, termasuk para pemuda Indonesia dan Malaya. Murid-murid beliau seperti H.Abdul Karim Amrullah (ayah Buya Hamka) yang mengajar di surau Jembatan Besi Padang Panjang, KH.Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) di Yogyakarta dan KH.Adnan di Solo. Juga termasuk KH.Hasyim Asy’ari pendiri pesantren Tebuireng dan Nahdhatul Ulama. Murid-murid beliau sekembalinya dari Mekkah ikut andil dalam pembaharuan pendidikan Islam di Indonesia.
Akan tetapi jauh sebelum Syeik Khatib Minangkabau, pada awal abad 19 telah dikenal nama-nama seperti Haji Abdurrahman Piobang, Haji Miskin dan Haji Muhammad Arif Sumanik, mereka adalah alumni Mekkah yang kembali ke Sumatera pada tahun 1802, kemudian kembali lagi ke Mekkah dan belajar disana, terpengaruh dengan faham Wahabi. Sekembalinya mereka dari Mekkah, melahirkan kaum muda dan kaum tua di Indonesia.
Selain pengaruh Mekkah, pendidikan Islam Indonesia saat itu juga terpengaruh oleh  pembaharuan di Mesir. Dalam hal ini Syeikh Taha Jalaluddin dianggap salah seorang pembaharu di bidang pendidikan yang banyak memperkenalkan faham Muhammad Abduh di Indonesia.
Pelajaran agama Islam pada masa peralihan ini bercirikan hal-hal sebagai berikut : a. Pelajaran untuk dua sampai enam ilmu dihimpun secara sekaligus; b. Pelajaran ilmu Nahwu didahulukan atau disamakan dengan imu Sharf; c. Buku pelajaran semuanya karangan ulama Islam Kuno dan dalam bahasa Arab; d. Buku-buku semuanya dicetak; e. Suatu ilmu diajarkan dari beberapa macam buku; f. Telah ada toko buku yang memesan buku-buku dari Mesir atau Mekkah; g. Ilmu agama telah berkembang luas berkat banyaknya buku bacaan; h. Aliran baru dalam Islam seperti yang dibawa oleh Majalah al Manar di Mesir mulai lahir.
Dengan demikian terlihat bahwa pendidikan Islam setelah tahun 1900 sudah banyak mengalami kemajuan. Padahal waktu itu kebijaksanaan pemerintah kolonial Belanda terhadap pendidikan Islam Indonesia sedang ketat-ketatnya. Di samping itu Belanda juga sedang gencar-gencarnya mempropagandakan pendidikan yang mereka kelola, yaitu pendidikan yang berbau diskriminasi antara golongan pribumi dengan golongan priyayi atau pejabat bahkan yang beragama Kristen.
3.        Pendidikan Islam Sesudah Tahun 1909
Priode ini ditandai dengan kesadaran  untuk memperkuat persatuan, diawali dengan tampilnya Budi Utomo tahun 1908. Selain semangat nasionalisme yang berkembang, kesadaran para ulama-ulama tentang pendidikan Islam juga berkembang. Mereka menyadari bahwa sistem pendidikan langgar dan pesantren tradisional sudah tidak begitu sesuai lagi dengan iklim Indonesia saat itu. Maka dirasakan kebutuhan untuk memberikan pelajaran agama di lembaga pendidikan dalam bentuk madrasah atau sekolah yang lebih teratur.
Madrasah Adabiyah berdiri pada tahun 1909 di Padang  dipimpin Syaikh Abdullah Ahmad, madrasah Diniyah di Padang Panjang dipimpin oleh Zainuddin Labai dan El Yunusiah tahun 1915. Sementara itu surau pertama yang memakai sistem kelas dalam proses belajar mengajarnya adalah Sumetera Thawalib Padang Panjang yang dipimpin oleh Syeikh Abdul Karim Amrullah  tahun 1921. Pada tahun yang sama Syeikh Ibrahim Musa melakukan hal yang sama di Sumetera Parabek Bukittinggi. Sedang madrasah pertama di Aceh ialah madrasah Sa’adah Adabiyah yang didirikan oleh Jam’iyyah Diniyah pimpinan T. Daud Beureuh tahun 1930 di Belang Paseh Sigli. Kemudian di Jawa tahun 1919 KH.Hasyim Asy’ari mendirikan madrasah Salafiyah di Tebuireng Jombang. Dapat dikatakan pada priode ini sistem pendidikan madasarah sudah dikenal hampir di seluruh wilayah Indonesia.
Melihat tahun-tahun berdirinya madrasah tersebut, dapat disimpulkan bahwa sistem madrasah baru dikenal pada permulaan abad ke 20. Pembaharuan yang dibawa oleh sistem ini adalah : adanya perubahan sistem pengajaran dari perorangan/sorongan menjadi klasikal dan memberikan pengajaran pengetahuan umum di samping pengetahuan agama dan bahasa Arab.

B. Zaman Jepang
Pada zaman Jepang, pendidikan disebut Hakko Ichiu, yakni mengajak bangsa Indonesia bekerja sama dalam rangka mencapai kemakmuran bersama Asia Raya. Sekolah-sekolah yang pada masa Belanda diganti dengan sistem Jepang.
Secara konkrit, tujuan pendidikan pada masa Jepang adalah untuk menyediakan tenaga cuma-cuma (romusha) dan prajurit-prajurit untuk membantu peperangan bagi kepentingan Jepang. Memang kehadiran Jepang di Indonesia dapat menanamkan jiwa “berani” pada bangsa Indonesia. Tapi semuanya itu untuk kepentingan Jepang.
Walaupun demikian ada beberapa hal yang perlu dicatat pada zaman Jepang ini, yaitu terjadinya perubahan yang cukup mendasar di bidang pendidikan, dan hal ini penting sekali artinya  bagi bangsa Indonesia, yaitu :
1. Hapusnya dualisme pengajaran; Berbagai macam sekolah rendah yang dahulunya diselenggarakan pada zaman Balanda dihapus. Tamatlah riwayat pengajaran Belanda yang dualistis itu, yang membedakan antara pengajaran Barat dan pengajaran Bumi Putra. Hanya satu jenis sekolah rendah yang diadakan bagi semua lapisan masyarakat, yaitu : Sekolah Rakyat 6 Tahun, yang ketika itu opular dengan nama Kokumin Gakko. Sekolah Desa masih tetap ada dan namanya diganti menjadi Sekolah Pertama. Jenjang pendidikan pun menjadi : Sekolah Rakyat 6 Tahun (termasuk Sekolah Pertama), Sekolah Menengah 3 tahun dan Sekolah Menengah Tinggi 3 tahun.
2. Pemakaian Bahasa Indonesia;       Bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa resmi dan  sebagai bahasa pengantar  di sekolah-sekolah. Tetapi sekolah-sekolah itu dipergunakan juga sebagai alat memperkenalkan budaya Jepang kepada rakyat.
Ada suatu hal yang cukup penting dan berarti pada masa  ini, yaitu ternyata sikap penjajah Jepang  lebih lunak terhadap pendidikan agama Islam. Sehingga ruang gerak pendidikan Islam lebih bebas ketimbang pada zaman Belanda. Terlebih-lebih lagi pada tahap permulaan, pemerintah Jepang menampakkan diri seakan-akan membela kepentingan Islam, yang merupakan siasat untuk kepentingan Perang Dunia II.
Untuk mendekati umat Islam, beberapa kebijaksanaan yang ditempuh Jepang adalah : a. Kantor Urusan Agama yang pada masa Belanda dipimpin oleh orang-orang orientalis Belanda, kini dipimpin oleh Ulama Islam sendiri (di tingkat pusat pada waktu itu dipimpin oleh KH. Hasyim Asy’ari), demikian pula di tingkat daerah-daerah; b. Pondok Pesantren yang besar-besar sering mendapatkan kunjungan dan bantuan pembesar Jepang; c. Sekolah Negeri diberi pelajaran budi pekerti yang isinya identik dengan ajaran agama; d. Diizinkan berdirinya barisan Hisbullah untuk memberikan latihan dasar kemiliteran bagi pemuda Islam (dipimpin KH. Zainal Arifin); e. Mengizinkan berdirinya Sekolah Tinggi Islam di Jakarta (dipimpin KH. Wahid Hasyim, Kahar Muzakkar dan Bung Hatta); f. Para ulama bekerjasama dengan pemimpin-pemimpin nasionalis diizinkan membentuk barisan Pembela Tanah Air (PETA) yang pada akhirnya merupakan cikal bakal dan inti dari TNI; g. Umat Islam diizinkan meneruskan organisasi persatuan yang disebut Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) yang bersifat kemasyarakatan.
Hal lain yang dapat dikatakan sebagai hal yang menggembirakan pada masa penjajahan Jepang dan menjadi suatu keistimewaan yang didapati dunia pendidikan pada umumnya adalah banyaknya sekolah-sekolah yang diseragamkan dan dinegerikan. Sedangkan sekolah-sekolah swasta seperti Muhammadiyah dan Taman Siswa serta lain-lainnya diizinkan terus bekembang, walaupun dengan pengaturan dan diselenggarakan oleh pendudukan Jepang.
Sedangkan di bidang madrasah, pada masa pendudukan Jepang, khususnya pada masa awal-awalnya, dibangun dengan gencar-gencarnya, mumpung ada angin segar yang diberikan Jepang, walaupun itu semua lebih bersifat politis belaka. Namun kesempatan itu tidak disia-siakan  begitu saja oleh umat Islam Indonesia. Hal ini terutama dapat dilihat di Sumatera yang terkenal dengan madrasah Awwaliyahnya yang diilhami oleh Majelis Islam Tinggi.
Hampir di seluruh pelosok pedesaan terdapat madrasah Awwaliyah yang dikunjungi banyak anak laki-laki dan perempuan. Madrasah Awwaliyah ini diadakan pada sore hari, lebih kurang satu setengah jam lamanya. Materinya sekitar belajar membaca Al Quran, ibadah, akhlak dan keimanan sebagai latihan pelajaran agama yang dilakukan di Sekolah Rakyat pagi hari.
Oleh karena itu, meskipun dunia pendidikan secara umum terbengkalai, karena murid-muridnya sekolah tiap hari harus disuruh gerak badan, baris berbaris, kerja bakti (romusha), bernyanyi dan sebagainya, namun yang agak beruntung adalah madrasah-madrasah yang berada di lingkungan pondok pesantren yang bebas dari pengawasan langsung pemerintah pendudukan Jepang.
Hanya saja dalam pelaksanaannya, pendidikan Islam pada masa pendudukan Jepang ini pun belum memiliki kurikulum baku yang berlaku secara umum di seluruh wilayah Indonesia.
Dari perbandingan di atas dapat disimpulkan, pada masa penjajahan di Indonesia pendidikan Islam telah terlaksana walaupun pada mulanya dalam bentuk sederhana dan bersifat individual. Namun seiring dengan perkembangan zaman dan waktu, pola pendidikan tersebut berubah sebagai akibat atau pengaruh dari pembaharuan pemikiran dan pendidikan Islam manca negera yang dalam hal ini dimotori oleh Mekkah dan Mesir.
Dalam pada itu, terdapat perbedaan yang cukup menonjol dalam pelaksanaan pendidikan Islam antara pada zaman Balanda dan Jepang. Jika pada zaman Belanda, pendidikan Islam seakan-akan dihambat sedemikian rupa sehingga tidak dapat berkembang secara wajar, namun pada zaman Jepang walaupun lebih singkat dari Belanda, dan walaupun rakyat lebih menderita, pendidikan Islam mendapatkan kesempatan untuk berkembang secara lebih baik. Hal ini di samping akibat dari perbedaan tujuan penjajahan, juga diakibatkan pengaruh dari perkembangan pemikiran  khususnya yang terjadi di Timur Tengah.


Jika Anda Menyukai Artikel ini Mohon KLIK DISINI dan sebarkan pada yang lain melalui jejaring di bawah ini

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar