Sabtu, 22 September 2012

Islam Sudah Perlu Pembaharuan


Setidaknya begitulah para tokoh pembaharu Islam berpikir, sehingga melahirkan berbagai karya berupa pemikiran yang bertujuan memperbaharui masyarakat agar tidak terlalu teguh dalam berpegang terhadap tradisi sehingga mengabaikan kondisi zaman yang berakibat pada kemunduran masyarakat Islam dalam berbagai segi kehidupan.
Dalam sejarah pembaharuan Islam Muhammad Abduh adalah salah seorang pemimpin yang penting. Pemikirannya cukup berpengaruh tidak hanya di tanah airnya Mesir dan dunia Arab lainnya di Timur Tengah, tetapi juga di dunia Islam lainnya. Oleh para penulis Perkembangan Modern di Dunia Islam, Muhammad Abduh ditempatkan pada posisi penting di antara pembaru-pembaru pemikiran Islam. Bahkan tokoh pembaru Islam yang sedikit lebih senior dari Muhammad Abduh yang pernah menjadi sahabat dan gurunya, pernah memuji Muhammad Abduh. Tokoh itu adalah Jamaluddin Al Afghani. Ia dilaporkan pernah mengatakan, “I leave you Muhammad Abduh, and he is sufficient for Egypt as a scholar.” Ucapan itu disampaikan oleh Al Afghani pada saat ia akan berpisah dengan teman-temannya di waktu ia akan meninggalkan Mesir pada tahun 1879.

Tulisan ringkas ini ingin menyoroti dua hal. Pertama, sekilas tentang riwayat hidup Muhammad Abduh. Kedua, pokok-pokok pikiran atau ide-ide  pembaruan yang telah dikemukakannya.
Riwayat Hidup
Suatu penelusuran yang agak teoritis yang mungkin dianggap tepat untuk mengetahui riwayat hidup Muhammad Abduh dilakukan oleh Charles C. Adams. Ia menggunakan pendekatan periodesasi. Ia membagi riwayat hidup Muhammad Abduh kepada tiga periodesasi, yaitu periode pertumbuhan, periode pemunculan di depan publik dan periode Abduh berada di puncak karir.
Kelemahan pendekatan Adams tentu saja ada, misalnya menganggap riwayat hidup Abduh sudah terpisah-pisah secara ketat antara satu masa dengan masa berikutnya, padahal menentukan batas masa itu sangatlah riskan, karena hidup itu terus berjalan secara alamiah bagaikan air mengalir tak putus-putus. Akan tetapi karena Adams membuat pembagian periode itu bukan semata-mata melalui pendekatan kualitatif, melainkan juga melalui pendekatan kuantitatif dengan menetapkan tahun dan peristiwa-peristiwa yang dilalui Abduh, maka cara pembagian Adams sebagaimana uraian berikut dapat diterima.
1. Periode Pertumbuhan (1849-1877 M)
Menurut pendapat umum, Muhammad Abduh lahir pada tahun 1265 H/1849 M. Ada pendapat lain yang mengatakan ia lahir pada tahun 1262 H/1845 M. Perbedaan ini mungkin disebabkan oleh perbedaan sumber tulisan.
Boleh jadi pula, mencatat kelahiran belum biasa dilakukan oleh masyarakat di tempat kelahiran Abduh yang bernama Mahallat Nasr, di hilir Mesir, kabupaten al Buhaerah di wilayah al Gharbiyah pada masa itu. Alasan lain penyebab perbedaan waktu kelahiran itu boleh jadi karena situasi politik yang tidak menentu, orang tua Abduh berpindah-pindah  dan tidak memperhatikan tanggal kelahiran putera-puterinya secara serius.
Ayah Muhammad Abduh bernama Abduh ibn Hasan Khairullah. Dengan begitu nama lengkapnya adalah Muhammad Abduh ibn Hasan Khairullah. Keluarganya hidup dari pertanian, namun memiliki jiwa keagamaan yang teguh, taat, dan berpandangan terbuka terhadap ilmu pengetahuan. Ayahnya menganjurkan Abduh untuk menuntut ilmu pengetahuan.
Masa pendidikan Abduh dimulai dengan pelajaran dasar membaca dan menulis oleh orang tuanya sendiri. Ia selanjutnya belajar Al Quran kepada seorang Hafiz. Dalam waktu dua tahun ia sendiri menjadi seorang Hafiz pula. Berikutnya ia belajar di mesjid Ahmadi, di Thantha. Metode pengajaran di sini menitik beratkan hafalan tanpa pengertian bagi murid-muridnya di sekolah itu, membuat Abduh merasa tidak puas. Ia kembali ke Mahallat Nasr dan bertekad melanjutkan usaha orang tuanya di lapangan pertanian. Kala itu diperkirakan ia berusia 16 tahun, di usia itu pula ia menikah.
Orang tuanya tidak setuju dengan tekad Abduh yang hanya ingin bertani. Orang tuanya memerintahkan Abduh untuk kembali belajar di mesjid Ahmadi di Thantha. Dalam perjalanan kembali ke Thantha ia menyimpang ke desa Kanisah Urin, tempat tinggal kaum kerabat pihak ayahnya. Salah seorang di antara kerabat ayahnya itu adalah Syeikh Darwisy Khadr yang sering melawat ke luar Mesir belajar berbagai ilmu agama Islam, dan pengikut tarekat Al Syaziliah.
Syeikh Darwisy berhasil membina kehidupan rohani dan intelektual Abduh. Akhirnya dengan semangat baru, di tahun 1870 M.Abduh kembali ke Thantha, enam bulan kemudian Abduh belajar di Al Azhar. Di Al Azhar kekecewaannya seperti di mesjid Ahmadi kembali terulang. Ia, bahkan mengatakan bahwa metode pengajaran yang verbalis merusak akal dan daya nalarnya. Untung saja di saat ini Abduh bertemu dengan Jamaluddin Al Afghani yang kemudian menjadi guru, sahabat dan tokoh pembaru Islam yang juga terkemuka di saat itu.
Al Afghani menjadi tokoh alternatif oleh Abduh dalam memperdalam ilmu pengetahuan, bukan saja yang berhubungan dengan agama Islam saja, tetapi juga ilmu-ilmu lainnya. Abduh di samping terus belajar di Al Azhar, walaupun merasa tidak berkenan dengan metodenya, seakan-akan mendapat kepuasan dari metode al Afghani yang mengutamakan pengertian dan diskusi-diskusi dalam lingkaran studi yang ia asuh.
Aktifitas Abduh di luar kampus, terutama dengan diskusi bersama lingkaran studi Al Afghani, bukan saja telah memperluas cakrawala kemampuan intelektualnya, mungkin pula menjadi faktor yang mendorongnya menyelesaikan studi akademiknya di Al Azhar pada tahun 1877 M. Ia menerima gelar 'alim dan berhak menjadi dosen di universitas itu.
2. Periode Pemunculan di Depan Publik
Periode ini berlangsung antara tahun 1877 M sampai 1882, sejak selesai kuliahnya di Al Azhar hingga ia diasingkan oleh penguasa Beirut karena masalah politik. Ia pada masa ini berakhir sebagai guru dan penulis.
Ia mengajar di tiga perguruan tinggi Mesir, yaitu  Al Azhar, Dar al ‘Ulum dan Perguruan Bahasa Khedewi. Mata kuliah yang diajarkannya meliputi teologi, sejarah, ilmu politik dan kesusastraan Arab. Ia menekankan metode diskusi dan semangat pembaruan dalam mengajar mahasiswanya.
Muhammad Abduh sangat menekankan pentingnya bahasa Arab dan ilmu-ilmu Islam, di samping ilmu-ilmu lainnya. Ia menghendaki terciptanya generasi  baru  yang  menguasai  bahasa Arab dengan baik dan ilmu-ilmu agama Islam secara lebih baik dia juga meluruskan  penyimpangan yang ada. Ia dianggap tidak mendukung pemerintah yang bekerjasama dengan Inggris. Ia tidak diizinkan lagi mengajar di Dar al ‘Ulum dan Perguruan Bahasa.
Pada masa pemerintahan Khedewi Tewfik di Mesir, Abduh dan gurunya dianggap biang oposisi. Abduh menjadi tokoh politik yang diganjar tahanan kota. Al Afghani juga demikian, bahkan diusir dari Mesir pada tahun 1879.
Tahanan kota Muhammad Abduh dicabut oleh Perdana Menteri Riad Pasya setahun kemudian, dan ia dibolehkan kembali ke Cairo, bahkan ia diangkat sebagai anggota redaksi, kemudian pemimpin redaksi lembaran negara Al Waq’aI al Mishriah. Posisinya sebagai pemimpin redaksi lembaran negara menambah peluang kritiknya terhadap pemerintah pada berbagai hal: agama, sosial, politik dan kebudayaan. Ia seakan-akan melanjutkan semangat nasionalisme yang ditinggalkan Al Afghani di Mesir.
Ketika di Mesir terdapat politik rasialisme yang berpangkal dari perbedaan kedudukan dan jabatan antara perwira-perwira Angkatan Bersenjata berasal dari Turki yang mendapat posisi penting, sedangkan mereka yang berasal dari Mesir sendiri terkucilkan, muncul Urabi Pasya. Perwira Mesir ini melakukan gerakan-gerakan tuntutan pemerintahan demokratis, Mesir harus berparlemen. Menanggapi perkembangan itu, Abduh sendiri walaupun kaum  nasionalis,  tidak  sependapat dengan tuntutan itu. Menurut Abduh, rakyat Mesir belum siap atau belum matang untuk hal-hal seperti itu. Bagi Mesir yang  penting adalah pendidikan untuk  mencerdaskan rakyat supaya siap menjadi yang demokratis dan berparlemen.
Urabi Pasya tampaknya semakin gencar melakukan gerakan dan berujung kepada pemberontakan. Keadaan menjadi lebih runyam, perlawanan berubah terhadap kekuasaan Barat dan hal itu melibatkan Abduh. Ia lalu ditangkap penguasa, setelah dihukum penjara tiga bulan, lalu  dibuang ke luar negeri untuk masa tiga tahun. Akhir tahun 1882 M Abduh menetap di Beirut, pindah ke Paris setahun kemudian dan  bergabung dengan Al Afghani kembali yang sudah lebih dahulu berada di Paris. Mereka membentuk gerakan  Al Urwah Al Wusqa yang menerbitkan media komunikasi dengan nama yang sama dengan nama gerakan itu.
Tentang gerakan dan majalah Al Urwah Al Wusqa dikatakan oleh Ahmad Amin, jiwa dan pemikirannya berasal dari  Al Afghani sedangkan tulisan yang mengungkapkan jiwa dan pemikiran itu berasal dari Abduh.
Masa-masa di luar negeri bagi Abduh dipergunakannya untuk menulis dan mengunjungi berbagai tempat serta mengajar. Ia  berkunjung ke Inggris, ke Tunis dan negara lainnya. Pada akhir tahun 1884 M ia kembali ke Beirut. Di sini ia menghentikan aktifitas politiknya, mencurahkan perhatiannya kepada mengajar, menulis dan menerjemahkan berbagai kitab ke  bahasa Arab.
Ia kembali ke Mesir pada tahun 1888 M dengan berbagai pengalaman dan tambahan khazanah intelektual yang luas dan mendalam setelah berkunjung ke  berbagai tempat dan orang-orang terkemuka di bidang ilmu pengetahuan. Ia masuk ke babak baru kehidupannya.
3. Periode di Puncak Karir
Tampaknya, setelah malang melintang dengan pergulatan perjuangan  yang terbawa oleh arus semangat juang revolusioner sahabat dan gurunya Al Afghani, Abduh  kembali ke garis perjuangan yang sebenarnya sudah ia yakini dari dulu paling tepat. Garis perjuangan yang bukan revolusioner, tetapi  evolusioner. Mengubah masyarakat  dan menegakkan prinsip-prinsip Islam, bukan mengubah  struktur kekuasaan, dengan  pendekatan  dari  bawah  atau rakyat melalui upaya meningkatkan kecerdasan rakyat.
Ia ingin kembali menjadi pengajar di Dar al ‘Ulum. Hanya karena  kesan keterlibatannya pada pemberontakan Urabi Pasya dulu, Khedewi Tewfik penguasa Mesir tak mengizinkannya. Hal ini dapat  dimaklumi karena dikhawatirkan semangat  mahasiswa akan dipengaruhi  lagi. Abduh lalu ditawarkan oleh Khedewi Tewfik menjadi hakim di luar kota Cairo. Ia sebenarnya  tak  begitu tertarik atas tawaran jabatan itu. Mungkin karena tidak ada pilihan lain, maka  tawaran menjadi hakim pada  Pengadilan Negeri itu ia terima  juga. Mulanya   di Benha dan Zegazig. Kemudian ia menjadi hakim  di  Cairo  di  Pengadilan  Negeri  Abidin.  Pada akhir tahun 1890 M   ia  
diangkat menjadi Penasehat pada Mahkamah Tinggi. Posisi ini, walaupun pada mulanya tidak begitu berkenan di hatinya, telah menjadikan Abduh mampu mempergunakan kesempatan itu untuk  menuangkan berbagai ide  pembaruannya. Agaknya  ia  sampai ke  puncak karirnya. Ia tidak saja melakukan  pembaruan di  bidang peradilan sesuai dengan jabatannya, tetapi juga di bidang  pendidikan yang menjadi pokok perhatiannya. Ia mewakili pemerintah duduk dalam Komite Administratif Universitas Al Azhar pada tahun 1895 M bersama syeik atau profesor-profesor terkemuka lainnya yang banyak melakukan perbaikan  untuk perguruan tinggi yang paling terkenal di dunia Islam ketika itu. Banyak rencana Abduh yang masih  terbengkalai  yang ingin ia lakukan, namun maut merenggutnya pada  tanggal 11 Juli 1905 dengan  didahului  oleh sakit  beberapa  hari.
Walaupun  Abduh telah meninggal, tetapi pemikiran  dan ide-ide pembaruannya  tetap bergema di dunia Islam, bukan  saja di Mesir dan Timur Tengah, bahkan sampai ke Asia Tenggara. Berikut ini akan  dikaji beberapa ide-ide pembaruannya.

Ide-ide  Pembaruan Muhammad Abduh
Ide-ide pembaruan  yang pokok  yang telah  dikemukakan Abduh  secara konseptual adalah tentang  pembaruan  pemikiran yang   membawa  implikasi  kepada   pembaruan   pendidikan. Di  samping  itu ia juga  melakukan pembaruan di bidang peradilan dan wakaf, ketika ia menjabat  hakim di peradilan dan Mufti. Begitu pula ketika ia duduk di  dalam waktu singkat di dewan legislatif Mesir sebagai anggota Majelis Syura tahun 1899, ia dapat  pula disebut mengemukakan ide pembaruan di bidang politik. Dengan begitu, maka pembaruan yang dikemukakan oleh Abduh mencakup  bidang-bidang pemikiran, pendidikan, hukum dan  politik. Dan akar  yang paling  pokok dalam  sifat pembaruan yang  diperjuangkan  Abduh adalah  pembaruan masyarakat bukan melalui cara-cara revolusioner dalam waktu singkat, tetapi melalui cara-cara yang evolusioner,  bertahap  dan mewujudkan  dasar  yang kokoh bagi  perkembangan masyarakat.
1. Pembaruan  Pemikiran
Muhammad Abduh berpendapat  bahwa sebab-sebab  kemunduran umat  Islam adalah faham jumud, keadaan membeku, statis,  tak ada perubahan. Umat Islam hanya berpegang teguh kepada tradisi dan tidak  mau menerima perubahan.
Abduh sebagaimana Muhammad Abdul Wahab dan Jamaluddin Al Afghani, menganggap bid’ah  yang masuk ke  ajaran Islam adalah  penyesatan. Oleh karena itu harus  dibasmi. Bagi  Abduh perubahan  itu  tidak hanya kembali ke ajaran salaf seperti dianjurkan Abdul Wahab, tetapi harus disesuaikan dengan keadaan modern. Bila ibadah  sudah jelas pedomannya di dalam Al Quran dan Hadis, maka soal-soal  kemasyarakatan yang hanya garis  besarnya  dapat disesuaikan dengan perkembangan zaman.
Untuk mengikuti  perkembangan zaman, umat Islam tidak boleh taklid. Umat mesti mempergunakan akalnya. Kedudukan akal bagi  Abduh sangat tinggi. Wahyu  tidak akan bertentangan dengan akal.  Bila zahir ayat bertentangan dengan akal, maka ayat itu dapat ditafsirkan sesuai  dengan 
prinsip-prinsip akal. Ini  berkaitan dengan dasar-dasar  ilmu pengetahuan modern  yang banyak berdasarkan hukum alam (sunnatullah), dan hal itu sesuai dengan  prinsip-pinsip Islam seperti yang  disebutkan oleh Al Quran  yang menempatkan posisi akal di tempat yang tinggi.
Prinsip itu membuat  Abduh berfaham bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam kemauan dan perbuatan ( free will dan free act atau qadariah). Bagi Abduh, wujud manusia dalam perbuatannya yang bebas itu  tetap berdasarkan ketentuan bahwa kekuasaan Allah tetap berada  di  tempat yang  paling tinggi.
Akal yang dikaitkan dengan masalah  ilmu pengetahuan  modern membawa kemajuan bagi umat manusia. Di samping itu akal juga harus dikaitkan dengan  prinsip  teologi. Bagi  Abduh  peranan akal dalam teologi adalah : 1. Mengetahui Tuhan dan sifat-sifatNya; 2. Mengetahui adanya hidup di akhirat; 3. Mengetahui bahwa kebahagiaan hidup di akhirat bergantung pada mengenal Tuhan dan berbuat baik, sedang kesengsaraannya bergantung pada tidak mengenal Tuhan dan  pada perbuatan jahat; 4. Mengetahui wajibnya menusia mengenal Tuhan; 5. Mengetahui wajibnya manusia berbuat baik dan wajibnya ia menjauhi perbuatan jahat untuk kebahagiaannya di akhirat; 6. Membuat hukum-hukum mengenai kewajiban-kewajiban itu.
Dilihat dari sisi menempatkan kekuatan yang tinggi terhadap akal dalam teologi, Muhammad Abduh sama dengan Mu’tazilah. Akan tetapi bila diperinci lebih dalam,  Muhammad Abduh menempatkan posisi akal   jauh lebih   tinggi dari Mu’tazilah. Bagi Abduh, akal  berperanan terhadap enam hal di atas,   sedangkan   bagi Mu’tazilah  hanya empat, yaitu : 1. Mengetahui Tuhan; 2. Mengetahui kewajiban terhadap  Tuhan; 3. Mengetahui kebaikan dan kejahatan; 4. Mengetahui kewajiban berbuat baik dan kewajiban menjauhi perbuatan jahat.   
Penempatan akal di posisi yang penting itu, bukan berarti Abduh merendahkan posisi wahyu. Wahyu lebih  tinggi lagi dari akal, karena wahyulah yang menjelaskan kepada akal bagaimana cara beribadat dan cara berterima kasih kepada Tuhan. Wahyu menentukan  baik buruknya suatu ketetapan Tuhan melalui suruhan dan larangannya pada hal-hal yang berlaku saat akal tak mampu memberi kualifikasi terhadap baik dan buruknya suatu perbuatan. Akal diperkuat pula oleh wahyu melalui sifat sakral dan kekuatan absolutnya untuk memaksa manusia untuk tunduk kepada hukum dan peraturan.
Mengenai ijtihad, Abduh berpendapat bahwa lapangan ijtihad  adalah masalah-masalah kemasyarakatan yang jumlahnya sangat sedikit disinggung dalam Al Quran dan Hadis. Karena itu  perlu interpretasi baru untuk disesuaikan dengan tuntutan zaman. Ijtihad itu  harus langsung kepada Al Quran dan Hadis, karena itu mujtahid haruslah  orang-orang yang mempunyai syarat-syarat yang diperlukan. Orang  yang tidak mempunyai syarat  untuk itu, harus mengikut kepada pendapat yang ia setujui fahamnya di kalangan mujtahid yang ada. Bagi Abduh, ijtihad tidak diperlukan untuk lapangan ibadat yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, karena itu tidak diperlukan penyesuaiannya dengan  perkembangan zaman. Ijtihad hanyalah di lapangan yang berhubungan dengan masalah manusia dengan manusia. 
2. Pembaruan Pendidikan
Mengubah  pola berfikir, berarti harus mengubah kualitas manusia dari bodoh dan tidak mengetahui apa-apa menjadi pandai dan mengetahui berbagai ilmu pengetahuan baik agama maupun umum, baik dalam arti sempit maupun luas.
Abduh melakukan pembaruan di bidang  pendidikan melalui pemikiran dan praktek pendidikan. Pemikiran  pendidikannya tertuang pada tiga  bentuk: pertama, pentingnya  bahasa Arab; kedua, pengetahuan agama dan pengetahuan umum sama-sama penting; ketiga, metode pengajaran tidak dititik beratkan kepada menghafal dan membaca komentar-komentar dari teks pelajaran, akan tetapi memahami dan mengerti apa yang terdapat di dalam ilmu itu dengan penekanan metode diskusi.
Pemikiran pendidikan itu diterapkan oleh Abduh, di samping pada masa-masa ia aktif mengajar di Darl Al ‘Ulum, Al Azhar danPerguruan Tinggi Bahasa, lebih-lebih lagi  ketika ia diangkat menjadi anggota dewan pimpinan Al Azhar oleh Khedewi Abbas pada tanggal 15 Januari 1895. Ia duduk dalam Komite Administratif itu bersama-sama dengan ulama-ulama terkemuka dari mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali. Ia menjadi penggerak dari dewan itu.
Ia melakukan pembaruan Al Azhar antara lain meliputi administrasi, keuangan dan fasilitas bagi pengajar dan mahasiswa. Memperpanjang masa belajar dan memperpendek masa libur. Menekankan pelajaran bahasa pada empat tahun pertama sebagai ganti dari  pembacaan hasyiah (komentar) dan syarh (penjelasan panjang lebar dari teks), dan pokok-pokok pelajaran diterangkan dengan cara yang mudah dimengerti. Mata pelajaran umum seperti matematika, aljabar, ilmu ukur dan ilmu bumi dimasukkannya ke dalam kurikulum Al Azhar. Perpustakaan Al Azhar dilengkapinya. Ia sendiri turut mengajar di Al Azhar dalam mata kuliah Teologi Islam, Logika, Retorika dan Tafsir.
Meskipun upaya pembaruan  yang ia lakukan di  Al Azhar mendapat tantangan dari ulama-ulama tradisional, namun banyak juga yang menerimanya. Cakrawala berfikir umat Islam telah dibukanya, walaupun ia terpaksa mundur dari anggota dewan pimpinan Al Azhar, karena Khedwi Abbas tidak merestuinya pada tahun 1905 M beberapa bulan sebelum ia wafat.
3. Pembaruan Hukum
Pengangkatan Abduh sebagai Mufti di tahun 1899 M memberi peluang kepadanya untuk melakukan  pembaruan di bidang ini. Ia memperbaiki pandangan masyarakat dan mufti itu sendiri tentang kedudukan mufti yang  ditunjuk negara hanya sebagai penasehat hukum untuk kepentingan negara. Di luar itu, mufti seakan-akan berlepas diri dari tanggung jawab terhadap orang yang mencari kepentingan dan kepastian hukum. Pandangan yang salah itu diluruskan Abduh. Ia memberi kesempatan kepada siapapun untuk mendapatkan jasa mufti di bidang hukum, tidak terbatas untuk kepentingan negara tetapi juga untuk kepentingan masyarakat luas.
Di dalam memutuskan berbagai  perkara pengadilan, sejak ia menjadi hakim di Benha, Zagazig, kemudian di Cairo sampai ia menjadi Penasehat Mahkamah Tinggi pada tahun 1890 M, sampai ia menjadi Mufti tahun 1899, ia banyak berpegang kepada keadilan bukan kepada teks hukum. Di dalam berfatwa ia tidak terikat dengan pendapat ulama-ulama sebelumnya. Ia sanggup dan berani melalukan ijtihad bebas. Ia pernah menghalalkan sembelihan orang Nashrani dan Yahudi sebagai ahli kitab bagi umat Islam.
Pada masa ia menjadi mufti, Abduh juga melakukan penataan institusi wakaf. Ia membentuk Majelis Administrasi Wakaf. Ia duduk sebagai  salah seorang anggotanya. Dari dana wakaf, mesjid-mesjid diperbaiki termasuk perangkat-perangkatnya, dari  pegawai sampai ke imam dan khatib.
4. Pembaruan Politik
Sebenarnya, jasa Muhammad Abduh dalam pembaruan di bidang politik tidaklah seluas dan sebesar di bidang pemikiran, lebih-lebih lagi tak seluas dan sedalam di bidang pendidikan. Akan tetapi, mengingat dinamika keadaan politik waktu itu, Abduh juga  memberikan sahamnya dalam bidang ini. 
Pada tahun 1899 ia diangkat menjadi anggota Majelis Syura, dewan  legislatif Mesir. Ia aktif di dalam dewan ini. Upaya Abduh adalah mengusahakan kerjasama yang baik antara Majelis syura dan Pemerintahan Mesir. Pada mulanya Majelis Syura tidak diperhatikan oleh pemerintah. Akan tetapi setelah usaha Abduh memperlihatkan bahwa kedua lembaga majelis Syura dan Pemerintah bertujuan sama untuk kepentingan rakyat Mesir secara keseluruhan, maka pemerintah pun mengirimkan rencana-rencananya untuk dibahas Majelis. Tampaknya upaya yang dilakukan di Majelis itu, juga merupakan kesatuan konsepnya dalam memajukan rakyat Mesir untuk dapat memasuki kehidupan politik demokratis yang didasarkan atas musyawarah. Jadi, secara hakiki tidak terlepas juga dari usahanya di lapangan pendidikan dalam makna yang lebih luas.
5. Peranan Wanita
Menurut Abduh keluarga merupakan  lembaga sosial,  maka  setiap unit  sosial memerlukan   pemimpin. Mengenai mengelola  keluarga, pria lebih patut jadi pemimpin, karena pria lebih  kuat secara fisik  dan pria bertanggung jawab  memberikan nafkah kepada  keluarga. Menurut hukum, suami bertanggung jawab melindungi dan menafkahi istrinya. Sebaliknya,  istri menaati  suami. Namun ini tidak berarti wanita dapat  dipaksa. Wanita dan pria punya fungsi  komplementer. Wanita  untuk pria, dan pria untuk wanita. Seperti organ tubuh, pria adalah kepalanya, wanita adalah badannya.  Abduh percaya, jika wanita memang punya kualitas pemimpin dan kualitas membuat keputusan, maka keunggulan pria tak berlaku lagi. Di tempat lain, dia menulis, bahwa menurut Al Quran ada dua jenis wanita, wanita shaleh dan wanita durhaka. Kepemimpinan pria berlaku hanya terhadap istri yang mengacau dan durhaka. 
Abduh juga menentang praktek poligami. Ia merasa bahwa kalau poligami itu ada di awal Islam, maka itu tidak boleh ada di dunia modern ini. Selama periode formatif Islam, praktek itu besar manfaatnya, karena membantu membentuk kelompok-kelompok keluarga baru dan menciptakan serta mempererat umat. Kendati syari’at membolehkan beristri empat, namun dalam analisis akhirnya mustahil manusia bisa berlaku adil, maka poligami harus dilarang. Dia bahkan merumuskan hukum yang memberikan kepada wanita hak untuk minta cerai karena kondisi tertentu.
Ide-ide pembaruan Muhammad Abduh telah memberi pengaruh terhadap dunia Islam pada umumnya, tidak saja di dunia Arab bahkan sampai ke Indonesia. Pengaruh itu terjadi melalui karangan-karangannya dan karangan murid-muridnya, baik berupa buku, majalah maupun tulisan dan artikel.
Sebagai tokoh pembaru, Abduh tidak terlepas dari pengaruh Jamaluddin Al Afghani. Namun keduanya mempunyai perbedaan yang mendasar.
Al Afghani menghendaki perubahan umat melalui perubahan politik revolusioner, sedangkan Abduh melalui kekuatan rakyat dengan mencerdaskan rakyat melalui pendidikan, dan karena itu bersifat evolusioner.
Terhadap pemerintah atau penguasa, terlihat bahwa Al Afgani menunjukkan sikap non kooperatif bahkan cenderung konfrontatif, sedangkan Abduh lebih kooperatif demi tercapainya tujuan, bukan untuk kepentingan pribadi.
Pembaruan-pembaruan yang diperjuangkan dan dikerjakan Abduh di lapangan pemikiran, pendidikan, politik, hukum dan kemasyarakatan merupakan percikan fahamnya, bahwa kemajuan manusia dalam kehidupannya dapat dicapai melalui kekuatan akal dan penalaran, yang memang sesuai dengan apa yang banyak disinggung oleh Al Quran dan Hadis.



Jika Anda Menyukai Artikel ini Mohon KLIK DISINI dan sebarkan pada yang lain melalui jejaring di bawah ini  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar