Rabu, 05 September 2012

Ketika Abu Yazid Berkata "Sesungguhnya Aku Ini Adalah Allah"


Sebagian umat Islam merasa belum puas dalam melakukan pendekatan diri kepada Allah melalui ibadah formal saja seperti sholat, puasa dan haji. Oleh karena itu mereka ingin merasa lebih dekat lagi dengan Tuhannya, sehingga mereka benar-benar merasa dirinya  senantiasa berada di hadirat Tuhan dan dapat berkomunikasi atau berdialog denganNya. Untuk memenuhi keinginan tersebut, biasanya umat Islam terjun ke dunia Tasawuf. 
Salah seorang tokoh dalam ilmu Tasawuf yang terkenal di dunia Islam adalah Abu Yazid al Busthami. Kemasyhurannya antara lain disebabkan beliaulah yang mengemukakan buat pertama kali faham atau konsep fana, baqa’  dan  ittihad.
Tulisan ini bermaksud akan menguraikan masalah ittihad. Akan tetapi membicarakan konsep ittihad secara terpisah, diduga akan mendatangkan pemahaman yang kurang komprehensif, maka dalam paragraph berikut, sebelum membahas ittihad, terlebih dahulu akan disinggung secara ringkas konsep fana dan baqa. Kemudian akan dijelaskan pula  beberapa komentar para ahli  terhadap konsep-konsep tersebut.
Dalam faham ittihad, maqam fana dan baqa’ merupakan pintu gerbang menuju ittihad. Fana, baqa’ dan ittihad sering disebut sebagai tiga maqam kembar. Hanya saja, seseorang akan sampai kepada maqam ittihad, setelah terlebih dahulu melalui fana dan baqa’.
Secara etimologi, kata fana berarti hilang, hancur, to perish; be annihilated. Sedangkan secara terminologi, menurut Harun Nasution, fana adalah penghancuran perasaan atau kesadaran seseorang tentang dirinya dan makhluk lain di sekitarnya. Sebenarnya dirinya tetap ada dan demikian juga makhluk lain tetap ada, tetapi ia tidak sadar lagi tentang wujud mereka, bahkan tentang wujud dirinya sendiri.
Menurut Ibrahim Madkur, fana ialah suatu teori tentang hilangnya perasaan dan kesadaran serta ingatan terhadap diri sendiri  dan alam sekitarnya, sirnanya seorang hamba  dalam keagungan Tuhan, sirnanya seorang hamba dari kemanusiaannya dan kekal bersama Tuhannya setelah melalui perjuangan dan pembersihan jiwa. Sedangkan menurut Ibrahim Basyuni, fana ialah kondisi batin yang merasakan hilangnya hubungan seseorang dengan alam bahkan dengan dirinya tanpa hilangnya sifat-sifat kemanusiaannnya.
Dari beberapa pengertian fana di atas, dapat disimpulkan bahwa fana memiliki makna, sirnanya atau lenyapnya perasaan, pemikiran dan kesadaran serta tindakan manusia, di mana ia tidak lagi merasakan apa yang terjadi pada dirinya dan alam sekitarnya, serta terbebasnya manusia dari hal-hal yang bersifat duniawi dan kemudian ia memusatkan perhatiannya kepada Tuhan. Hal ini berarti bahwa materi manusianya tetap ada dan alam sama sekali tidak hilang atau hancur, yang hilang hanyalah kesadaran akan dirinya sebagai manusia, atau dapat dikatakan bahwa ia tidak lagi merasakan eksistensi jasad kasarnya.
Dengan lenyapnya semua itu, maka yang tinggal adalah baqa’nya Allah. Sebagaimana dikatakan oleh ahli tasawuf, “Apabila nampak nur kebaqaan, maka fanalah yang tiada dan baqa’lah yang kekal. Tasawuf itu ialah mereka fana dari dirinya dan baqa’ dengan Tuhannya karena kehadiran hati mereka bersama Allah.” Abu Yazid berkata, “Ia membuat aku gila pada diriku hingga aku mati, kemudian Ia membuat aku gila padaNya, dan akupun hidup… aku berkata: gila pada diriku adalah kehancuran ( fana) dan gila padaMu adalah kelanjutan hidup (baqa).”
Demikianlah pandangan Abu Yazid tentang fana dan baqa’, sehingga akhirnya seseorang akan merasa dirinya bersatu dengan Tuhan ( ittihad ).
Ittihad merupakan kelanjutan dari konsep fana dan baqa’. Secara etimologi, ittihad berarti bergabung menjadi satu, menyatu atau bersatu. Yaitu bersatunya seorang sufi dengan Allah.SWT setelah terlebih dahulu melalui penhancuran diri (fana) dari kesadaran jasmani dan kesadaran rohani untuk kemudian berada dalam keadaan baqa’ ( tetap bersatu dengan Allah).
Untuk mencapai ke maqam ittihad, seorang sufi  harus terlebih dahulu mengalami al fana ‘an nafs, yang secara lafzi berarti kehancuran jiwa. Tetapi yang dimaksud  di sini bukanlah hancurnya jiwa seorang sufi menjadi tiada, akan tetapi kehancurannya akan menimbulkan kesadaran sufi terhadap dirinya. Inilah yang sering disebut oleh kaum sufi dengan “ al fana ‘an al nafs  wa  al baqa’  billah.”  Dalam arti kesadaran tentang diri sendiri hancur dan timbullah kesadaran diri Tuhan. Di sini terjadilah ittihad, yaitu perasaan bersatu dengan Tuhan.
Faham ittihad ini timbul sebagai konsekwensi lanjut dari pendapat Abu Yazid yang mengatakan bahwa jiwa manusia adalah pancaran dari Nur Ilahi, akunya manusia itu adalah pancaran dari Yang Maha Esa. Barang siapa yang mampu membebaskan diri dari alam lahiriyahnya, atau mampu meniadakan pribadinya dari kesadarannya sebagai insan, maka ia akan memperoleh jalan kembali kepada sumber asalnya. Ia akan menyatu padu dengan Yang Tunggal, yang dilihat dan dirasakannya hanya satu. Keadaaan seperti itulah yang disebut ittihad, yang oleh Abu Yazid disebut  tajrid fana at tauhid, yaitu perpaduan dengan Tuhan tanpa diantarai sesuatu apapun.
Tatkala sampai ke ambang pintu ittihad, seorang sufi sering mengucapkan kata-kata aneh atau ucapan teopatis atau dalam istilah sufi disebut dengan syathahat (theopathical stammmerings/ kata-kata yang penuh hayal).
Pengalaman kedekatan Abu Yazid dengan Tuhan hingga mencapai ittihad, disampaikannya melalui ungkapan-ungkapannya sebagai berikut :
Pada suatu ketika saya dinaikkan kehadirat Allah seraya Ia berkata, hai Abu Yazid, makhlukKu ingin melihatmu. Aku menjawab, hiasilah aku dengan ke-EsaanMu, dan pakaikanlah kepadaku sifat-sifat kedirianMu, dan angkatlah aku ke dalam keEsaanMu sehingga apabila makhlukMu melihat aku mereka berkata: Kami telah melihat Engkau. Tetapi sebenarnya yang mereka lihat adalah Engkau karena sesungguhnya pada saat itu aku tidak berada di sana.
Ada juga ungkapannya yang lain, yaitu “Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tiada Tuhan melainkan aku, maka sembahlah aku”. Pada waktu yang lain Abu Yazid pernah berkata, “Maha suci aku, alangkah agung kebesaranku.”
“Maha suci aku, tiada dalam baju ini selain Allah.”  Katanya lagi, “Tuhan berkata: Semua mereka kecuali engkau, adalah makhlukKu. Akupun berkata: Aku adalah Engkau, Engkau adalah Aku.”
Sepintas terkesan bahwa ungkapan-ungkapan Abu Yazid tersebut menyimpang atau menyeleweng dari ajaran Islam. Sehingga ungkapannya itu menimbulkan kontroversi di kalangan ulama dan para peminat tasawuf Islam, karena mereka belum pernah mendengar dari para sufi sebelumnya.

Komentar Para  Ahli
Beberapa ajaran Abu Yazid mendapat tanggapan bahkan kritik dari para ulama, terutama tentang faham fana-baqa’, ittihad dan syathahat.
Beberapa sarjana Barat berpendapat bahwa faham fana dan  baqa’ Abu Yazid ini dipengaruhi oleh ajaran Vedanta, sebagaimana diungkapkan oleh Annimarie Schimmel, “Bayezid’s emphasis of   fana, “annihilation” as well as some of his paradoxal expression of the atman until it realizes its oneness with Brahman but rather wants to extinguish all traces of human nature.” Ungkapan Annimarie di atas, jelas-jelas mengatakan bahwa faham fana dan baqa’ yang dikemukakan Abu Yazid dipengaruhi oleh ajaran Budha. Bahkan R.A. Nicolson pun menyatakan adanya “benang merah” antara ajaran fana dan baqa’ dengan nirwana, menurut Budha.  Asumsi ini dikarenakan menisbahkan guru Abu Yazid yaitu Abu Ali Al Shindi, berasal dari lembah Sindus di India. Statemen-statemen semacam ini tentunya masih memerlukan kajian ulang untuk membuktikan kebenarannya.
Begitu pula menurut Ahmad Amin, bahwa faham fana-baqa’ (termasuk ittihad) yang dibawa oleh Abu Yazid ke dalam tasawuf Islam, berasal dari pengaruh penganut-penganut agama Budha, karena konsep ini sama dengan Nirwana.
Meskipun demikian adalah sangat sulit untuk diterima atau dibenarkan begitu saja komentar atau bantahan di atas. Karena Al Quran sendiri mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan tasawuf sebagai ilmu. Hanya barangkali, pengaruh dari luar itu akan membantu pemikiran dalam perkembangan tasawuf yang berdasarkan Al Quran atau Hadis Nabi yang dipakai sebagai dalil para sufi. Menurut Harun Nasution, bagaimanapun, dengan atau tanpa pengaruh dari luar, sufisme bisa timbul dalam Islam, karena Al Quran dan Hadis mengatakan tentang masalah tasawuf itu.
Faham ittihad yang dinisbahkan kepada Abu Yazid telah mendapat reaksi  dari kaum ulama syari’at yang hanya menimbang segala masalah berdasarkan akal saja, sebagaimana dialami oleh kaum sufi sesudahnya yang berfaham hulul. Malah al Hallaj sendiri telah menjadi korban karena faham hululnya itu.
Maka dimulai oleh Al Ghazali lah yang membuat tasawuf menjadi halal bagi kaum syari’at, sesudah memandangnya sebagai hal yang menyeleweng dari Islam, yaitu sebagaimana tasawuf yang diajarkan oleh Abu Yazid dan Al Hallaj.
Menurut Haderanie, sebagian ulama ahli Kalam tidak dapat menerima konsep ittihad, dengan alasan :
Ittihad, adalah perpaduan dari dua unsur atau lebih, bercampur menjadi satu (manunggal). Misalnya, campuran sedikit kopi bubuk, sedikit gula dan segelas air panas lalu menjadi minuman yang dinamakan “segelas kopi”. Mereka yang menolak istilah ini karena adanya “istiqlal bil istiqlal” (sebagian dengan sebagian yang lain), yang dalam hal ini tidak mungkin terjadi “percampuran dan perpaduan” antara Zat Tuhan dengan diri hamba. Meskipun dalam hal ini dimaklumi, suatu kesulitan untuk menggambarkan apa yang dirasakan, namun para ulama menghendaki agar penggunaan istilah mengenai hubungan hamba dengan Tuhan, jangan sampai menggunakan istilah-istilah yang sulit diterima akal. Jadi jelasnya, terori ITTIHAD atau yang biasa disebut MANUNGGAL antara zat Tuhan dengan diri hamba, sama sekali tidak dapat diterima.
Sedangkan menurut kesimpulan Mahmud Qasim tentang faham ittihad dalam pandangan Al Ghazali, pada dasarnya ittihad itu tidak dapat dibenarkan (karena bertentangan dengan akal), tetapi kalau ada seorang sufi melepas kata-kata ittihad dan mengucapkan kata-kata  hu…hu…hu…, hanyalah sekedar perluasan istilah dan alegoris saja yang sesuai dengan tradisi sufi dan penyair…, tetapi Al Ghazali menetapkan bahwa di waktu sadar wajib bagi sufi agar menjaga lidahnya dari kata-kata yang menimbulkan kesamaan antara Allah dan hambaNya atau menimbulkan pengertian ittihad.
Masalah syathahat,  yang merupakan kelanjutan dari  ittihad, juga mendapat reaksi dari kaum ulama, karena syathahat yang dikeluarkan oleh seorang sufi  ketika dalam keadaan fana dan ittihad mengandung persamaan antara Allah dan hambaNya. Hal ini dianggap membawa kepada kekafiran dan bertentangan dengan syari’at.  
Menurut A.J. Arberry, ungkapan syathahat ini karena penginterpolasian pada sebagian ungkapannya yang memperkenalkan aliran intoksinasi (melayang mabuk) ke alam doktrin sufi, sehubungan dengan ini, ia dianggap sangat berbeda dengan aliran pikiran waras yang dipimpin oleh al Junaid.
Mengenai syathahat ini, bila dikaji secara psikologis, adalah merupakan puncak pengalaman mistik (mystical experience). Dalam hal yang disebut terakhir ini, A. Rudolf Uren dengan mengutip James Bisset Pratt, membuat tipologi pengalaman mistik menjadi dua bagian, yang satu sama lain saling terkait, tapi masih juga dapat dibedakan. Pertama, tipe pengalaman yang halus lembut (milder type) dan kedua, tipe pengalaman mistik yang keras/ mendalam (extreem type).
Pada tipe pertama ini terdapat di mana-mana dan dapat dilihat dengan mudah pada orang-orang normal, yang bentuknya tidak lebih dari bentuk penguat kepercayaan adanya saling hubungan (interrelasi) antara Tuhan dan manusia. Bagi seorang sufi, yang seperti ini merupakan saat di mana dia sedang “berdekatan” dengan Tuhan. Sedang pada tipe kedua, lebih menekankan pada intensitas dan akibat-akibatnya pun dapat menarik orang sekitarnya yang kadang-kadang berkembang menjadi ekstase dan vision.  Inilah saat sang sufi “menyatu” dengan Tuhan, yang menurut Pratt, dikatakan “sebagai pertanda adanya kunjungan, kehadiran, kesatuan zat yang Supranatural atau sebagai pertanda keadaan mental yang pathologis”.
Teori ini sering dijadikan pegangan oleh para pengamat mistik Islam, serta orang-orang yang sinis terhadap adanya realitas pengalaman mistik dari syathahat. Akan tetapi, oleh al Ghazali pandangan semacam ini ditentangnya, dengan tulisannya :
Orang-orang yang menolak hakekat ekstase (kegairahan) dan pengalaman-pengalaman ruhani para sufi, sebenarnya hanya mengakui kesempitan pikiran dan kedangkalan wawasan mereka saja. Meskipun demikian, mereka haruslah dimaafkan, karena mempercayai hakikat suatu keadaan yang belum dialami secara pribadi, adalah sama sulitnya dengan memahami kenikmatan menatap rumput hijau dan air mengalir bagi orang buta, atau bagi seorang anak untuk mengerti kenikmatan melaksanakan pemerintahan.
Sementara menurut Taftazani, yang  mmengutip pendapat al Sulami, al Tusi dan  al Qusyairi, bahwa ungkapan-ungkapan al Bustami itu (syathahat) sejalan dengan Al Quran dan al Sunnah, dan tasawuf yang dikemukakannya seiring dengan kedua sumber Islam tersebut.
Setelah diketahui, bahwa fana-baqa’ dan ittihad yang dibawakan Abu Yazid Al Busthami dapat    diterima para ulama syari’at setelah Al Ghazali menghalalkannya, maka syathahat-syathahat dapat diulas dan ditakwilkan agar tidak bertentangan dengan ajaran Islam yang meng-Esakan Allah. Menurut Hamka, syathahat itu ialah kata-kata yang tidak dapat dipertanggungjawabkan dan dikenakan hukum. Karena orang yang berkata pada waktu itu sedang “mabuk”,  .  .  .  mabuk oleh fananya, oleh tiada sadar akan dirinya lagi, sebab tenggelam dalam lautan tafakkur.
Dengan dasar uraian-uraian di atas, maka syathahat Abu Yazid (sebagai kelanjutan dari ittihad) yang bertentangan dengan dasar-dasar syari’at, dapat ditakwilkan atau diulas untuk menghilangkan kemungkinan yang menimbulkan pengertian Allah itu sama dengan hambaNya. Adapun caranya sebagai berikut :
Pertama, syathahat itu bukan dikatakan oleh Abu Yazid sebagai kata-katanya sendiri, tetapi kata-kata itu diucapkannya melalui diri Tuhan dalam ittihad yang dicapainya dengan Tuhan.
Kedua, syathahat itu dikatakan oleh Abu Yazid sebagai kata-katanya sendiri, tetapi maksudnya  bukan arti yang sebenarnya (hakiki), hanya alegoris atau majaz atau tasybih menurut bahasa dengan arti seolah-olah/seperti.
Ketiga, syathahat itu dikatakan oleh Abu Yazid sebagai kata-katanya sendiri sebagai perbandingan dengan manusia lain serta mengakui perbedaan yang jauh antara kesucian atau keagungannya dengan kesucian dan keagungan Tuhannya.
Demikianlah kritik dari golongan yang tidak senang kepada ajaran tasawuf dan pembelaan terhadap kritik-kritik itu. Agaknya kita harus punya pendirian, bahwa tasawuf itu sejalan dengan Islam, sebagaimana dikatakan oleh Imam Malik, seperti yang dikutip oleh Aboe Bakar Atjeh:
Barang siapa mengaji ilmu Fiqih/syari’at saja tidak mengerti tasawuf, maka ia itu fasik. Barang siapa mempelajari ilmu tasawuf  saja tanpa memahami fiqih/syari’at, maka ia itu zindik. Tetapi barang siapa mempelajari kedua-duanya, maka itulah orang tahkik, yaitu orang yang sudah sampai kepada hakiki.
Dari pemaparan di atas, dapat diketahui bahwa konsep tentang fana, baqa’ dan ittihad yang berujung kepada syathahat yang telah dikemukakan oleh Abu Yazid Al Busthami, telah membawa nuansa baru dalam bidang tasawuf pada masanya (abad III Hijriyah) dan memberikan pengaruh yang cukup besar pada perkembangan tasawuf pada masa-masa berikutnya.
Walaupun pada awalnya, faham ittihad ditentang oleh para ulama baik syari’at maupun kalam, namun akhirnya Al Ghazali mampu menyuguhkan argumentasi yang meyakinkan, sehingga para ulama tersebut dapat menerima konsep ittihad (dan dua konsep sebelumnya yaitu fana dan baqa’). Sehingga terkenal dalam dunia sufisme, bahwa Al Ghazali lah yang menjadikan tasawuf itu halal di dunia Islam.
Pengaruh ajaran Abu Yazid dapat terlihat pada konsep hulul dan ajaran wahdah al wujud. Dalam hal ini agaknya bukan berarti Abu Yazid berfaham seperti itu, tetapi secara perlahan, sedikit demi sedikit para sufi sesudahnya mengarah dan akhirnya berfaham wahdah al wujud. Wallahu a’lam bishshawab.


Beberapa Referensi Seputar Tasawuf

Aboe Bakar Atjeh, Pengantar Sejarah Sufi dan Tasawuf, Ramadhani, Solo, 1994
Abu al Wafa al Ghanimi al Taftazani, Al Madkhal ila al Tasawwuf al Islam, Dar al  Tsaqafah li al Thaba’ah wa al Nasyr, Cairo, 1979
Ahmad Amin, Zhuhr al Islam, Vol.IV, Maktabah al Nahdhah al Islamiyah, Cairo, 1973
Al Ghazali, Kimiat al Sa’adah, trans. Haidir Baqir, Kimia Kebahagiaan, Mizan, Bandung, 1984
Annimarie Schimmel, Islam : An Introduction, State University of New York Press, New York, 1992
Arberry, A.J, Muslim Saints and Mystics, trans. Anas Mahyuddin, Pustaka Salman, Bandung, 1983
Budhy Munawwar Rachmad (ed), Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah, Paramadina, Jakarta, 1995
Haderanie H.N, Ilmu Ketuhanan: Ma’rifat-Musyahadah-Mukasyafah-Mahabbah (4M), CV. Amin, Surabaya, tt
Hamka, Perkembangan Tasawuf dari Abad ke Abad, Pustaka Islam, Jakarta, 1966
Tasawuf, Perkembangan dan Pemurniannya, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1984
Harun Nasution, Falsafat & Mistisme Dalam Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1973
Ibrahim Basyuni, Nasy’ah al Tasawwuf al Islam, Dar al Ma’arif, Cairo, tt
Ibrahim Madkur, Al Mu’jam al Falsafi al Hai’ah al ‘Ammah li Syu’ub, al Maktabi al Amriyah, Cairo, 1979
Ilyas Anton, Kamus Ilyass al Ashriy, Dar al Jail, Beirut, 1982
Kafrawi Ridwan, dkk (ed), Ensiklopedi Islam, Jilid 2, PT.Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 1994
Mahmud Qasim, Dirasah al Falsafat al Islamiyah, Dar al Ma’arif, Cairo, 1973
Musthofa, H.A, Akhlak Tasawuf, Pustaka Setia, Jakarta, 1995
Mustafa Zahri, Kunci Memahami Ilmu Tasawuf, PT. Bina Ilmu, Surabaya, 1995
Reynold A. Nicolson, The Mystics of Islam, Routledge and Kegal Paul, London & Boston, 1974
Rivay Siregar, H.A, Tasawuf : dari Sufisme ke Neo-Sufisme, PT. Raja Grafindo, Jakarta, 1999
Rudolf Uren.A, Recent Religious Psychology, T & T Clark, Edinburg, 1928


Jika Anda Menyukai Artikel ini Mohon KLIK DISINI dan sebarkan pada yang lain melalui jejaring di bawah ini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar