Sabtu, 22 September 2012

Memilih Strategi Pembelajaran


Peran Guru
Hubungan antara pengembang kurikulum dan guru adalah merupakan partnership. Pada banyak fase perencanaan kurikulum, inisiatif berada pada pengembang kurikulum. Tetapi, ketika tiba saatnya memilih strategi pengajaran, guru adalah pembuat keputusan yang utama. Ada dua alasan yang mendasarinya:
Pertama, guru menganggap keputusan-keputusan tentang cara mereka berinteraksi dengan siswa-siswi mereka adalah sebagai hak prerogatif mereka. Ini adalah aspek pekerjaan mereka dimana mereka merasa paling berkompetensi dan menyenangkan, dan mereka biasanya disiapkan untuk menerima tanggung jawab tentang keputusan-keputusan yang mereka ambil. Otonomi guru terhadap interaksi kelas, pemilihan aktivitas-aktivitas belajar, dan langkah pengajaran umumnya sudah diketahui. Sepertinya  hal itu menunjukkan bahwa usaha untuk menyiapkan strategi-strategi pengajaran dalam suatu kurikulum yang dikembangkan di luar kelas  akan sia-sia, dan pada tingkat paling jelek, ditolak sebagai suatu kesalahan.

Kedua, puluhan tahun penelitian telah menghasilkan prinsip-prinsip umum yang mencakup pilihan tentang strategi-strategi pengajaran. Untuk suatu tingkatan yang penting, isu-isu tentang metode mengajar dapat diputuskan dengan baik hanya pada level kelas, di mana seseorang bisa yakin bahwa metode-metode tersebut cocok untuk siswa-siswa tertentu dan tujuan-tujuan pengajaran tertentu. Para pengembang kurikulum dengan demikian, mungkin bijaksana membesarkan posisi guru-guru yang menguntungkan dan membiarkan mereka mengontrol strategi pengajaran. Pada waktu yang sama, guru-guru dapat menerima pendekatan-pendekatan pengajaran yang tidak bersifat menentukan yang betul-betul kreatif atau efektif.
Harnischfegar dan Wiley (1976) mendefiniskan peran guru dalam hubungannya dengan kurikulum dan dengan siswa dalam diagram yang ditunjukkan pada gambar*). Diagram tersebut menunjukkan bahwa usaha anak, bukan aktivitas-aktivitas guru, yang hampir semuanya secara langsung mempengaruhi pelajaran.
Semua pengaruh-pengaruh terhadap kemampuan anak harus diperantarai melalui usaha-usaha anak. Tak seorangpun yang dapat memperoleh ilmu pngetahuan atau menerima cara-cara berfikir yang baru, meyakini, melakoni (beraksi), atau merasa, kecuali melalui penglihatan, melihat dan mengamati, mendengar secara sepintas atau dengan hati-hati, merasa dan meraba. Hal-hal tersebut mengontrol apa dan bagaimana seseorang belajar. Pengaruh-pengaruh yang kurang dekat, apakah sama umumnya dengan kurikulum daerah dan kebijaksanaan dan organisasi sekolah atau sama istimewanya dengan pendidikan guru, kepribadian, perencanaan, dan aktivitas-aktivitas, secara langsung mengontrol dan mengkondisikan usaha-usaha ini, bukan kemampuan maksimum siswa.
Model ini berfungsi sebagai sesuatu dari banyak faktor yang berguna yang menghalangi antara kurikulum dan belajar anak. 
 *)(Diambil dari Harnischfegar dan Wiley)

Pengajaran Individual dan Kelompok
Penelitian tentang bagaimana manusia belajar telah menemukan bahwa belajar adalah suatu keistimewaan yang tinggi.  Orang-orang yang berbeda belajar dengan baik dengan cara yang berbeda pula, suatu strategi pengajaran yang cocok untuk seorang siswa mungkin saja tidak begitu berarti bagi siswa yang lain.    
Sementara, ini mungkin seperti penjelasan terhadap suatu kenyataan, apa yang dikenal dalam praktek di kelas selama lebih dari tiga ribu tahun yang lalu, menunjukkan bahwa prinsip-prinsip tersebut memberikan sedikit pengaruh terhadap gaya mengajar sebelum abad 20. “Pengajaran Individual” telah menjadi tema utama dalam inovasi pendidikan pada tahun 60-an. Beberapa kemajuan yang berarti telah dibuat, khususnya dalam program-program individual seperti; membaca pada tingkat-tingkat awal. Tetapi pada umumnya pengajaran kelompok tetap sesuai dengan normanya. Hal ini telah bertahan dengan banyak alasan, tiga diantaranya dapat dicatat sebagai berikut :
- Beberapa penentang dari pengajaran individual cenderung untuk melebih-lebihkan perbedaan antara pengajaran kelompok dan pengajaran individual. Guru kelas tidaklah seorang yang bergerak secara otomatis. Dalam situasi kelompok guru-guru menyesuaikan pengajaran mereka dalam merespon para siswa dengan frekwensi yang besar, menurut Hunt (1976), rata-rata seratus kali per jam. Guru yang terampil mengerahkan dan memonitor belajar individu-individu dan dapat merespon masalah-masalah belajar yang berbeda dan lebih menyukai gaya-gaya belajar bahkan ketika sekelompok siswa-siswi semuanya terlibat dalam aktivitas yang sama. Ketika guru-guru mengembangkan keterampilan-keterampilan tersebut, mereka tidak begitu perlu untuk menjalankan cara individu atau tutorial secara formal.
- Hambatan kedua terhadap perkembangan pengajaran individual adalah bersifat teoritis. Ilmu pengetahuan yang kita miliki sekarang tentang cara-cara mengajar yang paling cocok untuk para siswa secara individu dengan karakter-karakter yang berbeda belum sempurna. Snow, terlalu jauh mengatakan tentang penemuan-penemuan interaksi tritmen bakat bahwa  “sedikit yang dapat dipahami dengan baik dan tak satupun yang dapat diaplikasikan ke dalam praktek pengajaran” (1976 : halaman 50). Walaupun banyak penelitian yang menjanjikan, fakta/bukti dari uji lapangan belum cukup bagi para pendidik untuk menetapkan/ menentukan pelajar-pelajar individu untuk menyimpulkan tritmen-tritmen pengajaran dengan keyakinan yang besar.
- Alasan ketiga yang mungkin menentukan kenapa pengajaran individual bukan menjadi suatu norma dalam masa depan yang menentukan adalah  jumlah sumber yang diperlukannya. Hampir semua sistem individu membutuhkan perluasan yang penting dari sumber-sumber pengajaran yang walaupun hal tersebut mungkin dapat meningkatkan keefektifan, namun menambah biaya pendidikan. Dalam kondisi ekonomi yang ada, pengeluaran yang meningkat seperti itu tidak mungkin ada.
Saat ini, dengan situasi dan kondisi yang ada, pengembang-pengembang kurikulum dapat mengasumsikan dengan nyata bahwa pengajaran kelompok akan terus menjadi pola pengajaran yang normal. Satu pengecualian penting yang ada adalah pengajaran dengan bantuan atau berdasarkan komputer.


Diterjemahkan dari :
CURRICULUM DESIGN and DEVELOPMENT
Davit Pratt, Queen’s University. Halaman 297 – 299



Jika Anda Menyukai Artikel ini Mohon KLIK DISINI dan sebarkan pada yang lain melalui jejaring di bawah ini 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar