Selasa, 25 September 2012

Pertama Kusinggah di Rumah Puisi


Dalam sebuah perjalanan dari Solok ke Lubuk Sikaping Pasaman pada hari Senin tanggal 17 September 2012 yang lalu, aku singgah di Rumah Puisi Taufik Ismail di Padang Panjang. Beberapa waktu sebelumnya, setiap kali kulewat di sana, ada sebuah keinginan yang selalu menguap bersama waktu, baru di hari itu berkesempatan kumewujudkannya.

Ditandai dengan matinya mesin motorku dalam persneling dua pada tanjakan dengan kemiringan hampir empat puluh lima derajat, yang menyimpang disisi kiri jalan raya jika kita dari Padang menuju Bukittinggi, tepatnya di Nagari Aie Angek Jl. Raya Padang Panjang - Bukittinggi Km.6 Sumatera Barat, aku telah berada di sebuah kawasan elok nan sejuk tempat berdirinya Rumah Puisi.


Di puncak tanjakan tajam itu kutemukan sebuah portal yang tetap terbuka, di depan pos penjagaan yang tak berpenghuni. Sehamparan halaman dipenuhi kerikil berserakan, menyambutku diantara beberapa bangunan utama. Ada beragam bunga mengelilinginya, tumbuh rapi dan terpelihara. Lembaran-lembaran berbahan vinyl bergantungan di sepanjang sisi halaman, memuat rangkaian kata penuh makna dari karya para penyair.





Inilah Rumah Puisi! Ungkap batinku dalam semburat rasa kagumnya. Rumah ini terbuka untuk umum sampai jam setengah lima sore, sebagaimana tertera pada selembar kertas di pintu kaca bagian depannya, yang membuatku menyadari makna dari angka 16.33 pada layar handphone-ku. Dan hanya berbekal sederetan nomor HP atas nama Muhammad Subhan, aku pun meninggalkan tempat itu. Dengan niat suatu saat akan berusaha kembali singgah.

Menurut informasi yang kuperoleh kemudian melalui saran Muhammad Subhan, penulis novel Rinai Kabut Singgalang. Rumah puisi merupakan sebuah jejak yang ditapakkan dalam serangkaian perjalanan panjang.

Sejak 1998 hingga 2008, penyair Taufiq Ismail bersama tim redaktur Majalah Sastra Horison dan para sastrawan se-Indonesia telah menggelar Sepuluh Program Gerakan Membawa Sastra ke Sekolah dengan tujuan meningkatkan budaya baca buku dan kemampuan menulis anak bangsa. Diantara program unggulan yang telah terlaksana adalah Membaca Menulis dan Apresiasi Sastra (MMAS) yang merupakan pelatihan terhadap 2000 orang guru selama 6 hari di 11 kota; Sastrawan Bicara Siswa Bertanya (SBSB) dengan mengajak 113 sastrawan dan 11 aktor-aktris masuk ke 213 SMA membacakan karya sastra dan bertanya-jawab dengan siswa dan guru di 164 kota yang terletak di 31 provinsi; Menyalurkan tulisan siswa dan guru dalam sisipan Kakilangit selama 11 tahun dalam majalah sastra Horison; Menerbitkan 8 antologi puisi, cerpen, fragmen, novel dan drama serta esai (tiras total 37.000 eksemplar, tebal 2.280.120 halaman) yang dikirim ke 4.500 perpustakaan SMA Negeri dan Swasta selama periode 2000-2004; Dan membentuk 30 sanggar sastra siswa di seluruh Indonesia.

Bertunas dan tumbuh dari pengalaman kolektifnya itulah, Taufik Ismail beserta isterinya Ati menggagas dan mendirikan Rumah Puisi pada tahun 2009, guna mewujudkan cita-cita untuk menghimpun kegiatan Gerakan Membawa Sastra ke Sekolah di satu lokasi. Dan lokasi yang terpilih sebuah kawasan berhawa sejuk yang sempat kukunjungi di hari itu, di Kilometer 6 Jalan Raya Padang Panjang-Bukittinggi, Nagari Aia Angek Padang Panjang Sumatera Barat.

Diberi nama Rumah Puisi, bukan untuk menyampaikan arti bahwa kegiatannya hanya semata-mata berkaitan dengan persajakan. Melainkan lantaran sang penggagas ingin menegaskan bahwa sesungguhnya seluruh karya sastra pasti memiliki keindahan puitiknya masing-masing, sehingga bisa disepakati jika istilah puisi telah menjadi kata sifat bersama dan payung dari seluruh karya sastra. Karena hingga kini, Rumah Puisi tetap membingkai kegiatan yang merangkum seluruh aktivitas yang bersangkutan dengan literatur dan literasi, karya sastra, pembacaan dan latihan penulisannya, dengan warna keindahan puitik sebagai intinya, tanpa menghentikan dan  menggantikan kegiatan yang sudah terselenggara sejak 1998.

Selama ini di Rumah Puisi telah berlangsung beberapa kegiatan seperti pelatihan guru Bahasa dan Sastra Indonesia, kegiatan membaca dan berlatih menulis siswa Sanggar Sastra, kegiatan apresiasi sastrawan Indonesia dan Minangkabau, interaksi antar sastrawan dengan guru dan siswa, interaksi antar sastrawan, dan akses buku-buku perpustakaan serta mengundang Sastrawan Tamu dari daerah lain untuk bermukim selama 15 hari sampai 1 bulan.

Untuk dua kegiatan yang tersebut pada penggal akhir, Rumah Puisi telah memiliki 7.000 judul buku sebagai modal awal yang diharapkan akan terus bertambah serta telah dilengkapi dengan sarana akomodasi berupa penginapan yang dinamai Aia Angek Cottage.



Sebagai wujud cita-cita Gerakan Membawa Sastra ke Sekolah, tentunya Rumah Puisi tidak mengusung tujuan yang berbeda, bahkan dengan segala kegiatannya Rumah Puisi tidak berkehendak muluk untuk menjadikan siswa penyair atau sastrawan. Tetap meningkatkan budaya baca buku dan kemampuan menulis anak bangsa yang menjadi tujuan utama.

Karena kecintaan membaca buku dalam bidang apapun, secara awal ditumbuhkan melalui kecintaan membaca karya sastra. Demikianlah pembibitan awal kebiasaan membaca dilakukan di seluruh dunia yang beradab. Latihan menulis yang terus menerus dapat mengantarkan siswa menulis karya sastra, kalau dia berminat, tetapi kalau tidak, dia akan memiliki kemampuan menulis secara umum. Dia akan menjadi insan yang cinta sampai adiksi buku, merasa perpustakaan sebagai rumahnya yang kedua, dan mampu menulis dalam bidang profesinya masing-masing. Bila kelak dia menjadi arsitek, pelaku bisnis, guru, spesialis bedah, kepala direktorat, pakar agronomi, komandan resimen, wartawan, pilot antar benua, ibu rumah tangga dan seterusnya, maka dia adalah profesional yang rujukan utamanya buku bacaan dan mampu menulis dalam spesialisasinya masing-masing.

Kalau kelak di antara mereka, satu di antara seratus, ada yang menjadi penyair, cerpenis, novelis, dramawan dan esais terkemuka, tentu itu patut disyukuri.






Itulah gambaran Rumah Puisi yang kukunjungi, sebagai sebuah torehan pengalaman batin dari satu perjalanan. Meskipun tidak jelas bagi yang mendengarkan, namun sebagaimana kita menikmati sebuah puisi, sangat benderang bagiku yang merasakan.



Taufiq Ismail di Elsaelsi's Blog :



Jika Anda Menyukai Artikel ini Mohon KLIK DISINI dan sebarkan pada yang lain melalui jejaring di bawah ini  

1 komentar:

  1. yang cottage nya lebih bagus hanya beberapa meter dari rumah puisinya. ada kolam renang dan galeri nya

    BalasHapus