Minggu, 07 Oktober 2012

Mengajarkan Hidup Tanpa Tuhan



Dalam melaksanakan proses pendidikan, penerapan konsep-konsep psikologi oleh para pendidik, mewarnai corak tersendiri dari proses tersebut. Karena salah satu ilmu bantu dalam melaksanakan pendidikan adalah psikologi. Suatu hal yang patut  disayangkan, sebagian pendidik mengadopsi semua konsep-konsep, rumus-rumus dan teori-teori psikologi yang ada tanpa analisa lebih lanjut. Akibat dari perbuatan tersebut, dapat dilihat bahwa usaha pendidikan belum banyak menghasilkan manusia-manusia paripurna, sebagaimana yang dicita-citakan.  

Sebagai suatu disiplin ilmu yang merupakan hasil spekulasi pikiran dan keterbatasan pengamatan manusia, psikologi tentu mempunyai sejumlah kelemahan. Kelemahan itu antara lain dapat dilihat dari kemampuan psikologi yang sangat terbatas dalam menerangkan siapa sesuangguhnya manusia dan bagaimana seharusnya manusia menata dirinya, sehingga mencapai kesuksesan dalam menjalani kehidupannya. Kita saksikan bahwa Psikologi dengan sangat mudah mereduksi fenomena-fenomena siapa sesungguhnya manusia.

Untuk Apa Hari Jum’at?


Ketika melihat Jadwal Jam Buka Kantor di salah satu kantor pos yang pernah kukunjungi, ada saja yang menarik. Di sana tertera, Senin s/d Kamis Jam 07.30 s/d 15.00, dan di bawahnya Jum’at Jam 07.30 s/d 15.00 juga, lalu Sabtu Jam 07.30 s/d 11.30.

Yang kupikirkan, kenapa tidak Senin s/d Jum’at Jam 07.30 s/d 15.00?

Apa yang Dicari Bapak-bapak di Toko Buku?


Ya, terserah pada Bapak-bapaknya. Yang jelas di setiap toko buku pasti ada petunjuk ataupun label setiap barang yang tersedia di sana. Seperti kamus, buku pelajaran, buku agama, buku filsafat, buku kedokteran, novel, buku untuk anak dan buku-buku lainnya. 

Setiap yang datang ke toko buku, tanpa dihitung apakah bapak-bapak atau bukan bebas untuk memilih atau membeli sesuai dengan label yang disediakan. Just for fun!

Posisi Nafsu Seksual dalam Daftar Ibn Miskawaih



Pengertian al Nafs
Dalam masalah al Nafs, Ibn Miskawaih bertumpu pada ajaran spritualistis tradisional Plato dan Aristoteles dengan kecenderungan Platonis. Ibn Miskawaih mengatakan bahwa al Nafs berasal dari limpahan akal aktif. Al Nafs bersifat ruhani, suatu substansi sederhana yang tidak dapat diraba oleh salah satu panca indra. Ia (dapat) mencerap hal-hal yang sederhana dan kompleks, yang ada di hadapan atau yang tidak ada, yang dirasakan atau yang difikirkan.
Pandangan dasar Ibn Miskawaih adalah bahwa manusia akan menjadi baik atau buruk sangat tergantung kepada bagaimana ia mengelola al nafsnya. Hal ini nampak bertentangan dengan pandangan empirisme yang menganggap bahwa baik dan buruknya manusia itu ditentukan oleh lingkungannnya. Walaupun demikian, menurut Ibn Miskawaih, faktor lingkungan dapat mengotori al Nafs manusia sehingga ia dapat berbuat keburukan. Untuk menjaga agar al Nafs itu tetap dalam posisi suci, maka akal manusia berposisi sebagai alat kontrol.