Minggu, 07 Oktober 2012

Mengajarkan Hidup Tanpa Tuhan



Dalam melaksanakan proses pendidikan, penerapan konsep-konsep psikologi oleh para pendidik, mewarnai corak tersendiri dari proses tersebut. Karena salah satu ilmu bantu dalam melaksanakan pendidikan adalah psikologi. Suatu hal yang patut  disayangkan, sebagian pendidik mengadopsi semua konsep-konsep, rumus-rumus dan teori-teori psikologi yang ada tanpa analisa lebih lanjut. Akibat dari perbuatan tersebut, dapat dilihat bahwa usaha pendidikan belum banyak menghasilkan manusia-manusia paripurna, sebagaimana yang dicita-citakan.  

Sebagai suatu disiplin ilmu yang merupakan hasil spekulasi pikiran dan keterbatasan pengamatan manusia, psikologi tentu mempunyai sejumlah kelemahan. Kelemahan itu antara lain dapat dilihat dari kemampuan psikologi yang sangat terbatas dalam menerangkan siapa sesuangguhnya manusia dan bagaimana seharusnya manusia menata dirinya, sehingga mencapai kesuksesan dalam menjalani kehidupannya. Kita saksikan bahwa Psikologi dengan sangat mudah mereduksi fenomena-fenomena siapa sesungguhnya manusia.

Sehingga timbul pertanyaan : bagaimana mungkin B.F Skinner bisa sampai kepada kesimpulan bahwa perilaku manusia sangat ditentukan hukum stimulus dan respon (S-R) dan bagaimana mungkin Sigmund Freud sampai kepada kesimpulan bahwa manusia hanya didorong oleh kebutuhan libidonya ?

Mencermati adanya kekurangan, kelemahan dan bias dalam teori yang dikembangkan para ahli dalam khazanah psikologi, maka seyogyanya setiap orang yang menaruh perhatian terhadap psikologi melakukan telaah kritis, baik dengan cara membandingkan ataupun dengan cara penilaian. Metode penilaian dapat dimanfaatkan untuk menilai konsep-konsep atau teori-teori psikologi dengan menggunakan sudut pandang tertentu. Salah satu sudut pandang yang perlu dikedepankan adalah sudut pandang Islam. Pemakaian sudut pandang Islam dilakukan dengan pertimbangan bahwa Islam adalah sumber pedoman, pandangan dan tata nilai kehidupan bagi manusia. Secara normatif, jelas sekali Islam dapat dimanfaatkan sebagai cara penilaian untuk melihat apakah konsep-konsep psikologi dapat dipertanggungjawabkan secara moral Islam atau tidak. Selain itu, Islam sendiri merupakan sumber pengetahuan yang dengannya kita dapat menilai apakah suatu konsep sesuai dengan pandangan Islam atau tidak.

Konsep-konsep, metodologi dan pendekatan-pendekatan dalam psikologi yang telah dirumuskan para ahli bukanlah capaian final. Pada setiap rumusan selalu terkandung kemungkinan adanya kekurangan dan cacat. Secara sederhana saja, dapat dikatakan bahwa karena teori-teori atau aliran-aliran psikologi lahir dari peradaban Barat, maka kerangka fikir (mode of thought) dari rumusan psikologi itu pun tidak terlepas dari mode of thought masyarakat Barat. Karenanya, sangat mungkin ia mengandung bias-bias ketika kita memakainya untuk menganalisis atau menerapkannya pada budaya atau masyarakat yang berbeda, apatah lagi untuk diterapkan pada dunia pendidikan umumnya dan pada dunia pendidikan Islam khususnya. Karena itu diperlukan suatu telaah kritis, agar capaian-capaian itu bisa ditingkatkan lagi sehingga dapat diterapkan secara pas pada masyarakat dan budaya serta dunia pendidikan kita yang komunitasnya mayoritas Muslim.

Telaah kritis ini akan diarahkan kepada pendapat tiga aliran besar dalam khazanah psikologi modern tentang perilaku keagamaan. Seperti diketahui, dalam psikologi modern terdapat tiga arus utama (mainstream) yang kini diakui sebagai aliran psikologi yang mapan. Ketiga aliran tersebut adalah Behaviorisme, Psikoanalisis dan Psikologi Humanistik.

Sebagaimana diketahui, setiap aliran psikologi selalui dinaungi oleh konsep manusia sebagai dasarnya, lalu dirumuskan teori-teori lanjutan dari konsep manusia itu dan sistem aplikasi atau pendekatan terhadap problem kemanusiaan. Salah satu di antara problem kemanusiaan adalah masalah tingkahlaku atau perilaku keagamaan.

Tulisan ini diharapkan akan menyajikan telaah kritis terhadap konsep tingkah laku keagamaan menurut ketiga aliran besar tersebut. Meskipun demikian, dalam rangka mendapatkan pengertian yang lebih jelas, maka uraiannya akan didahului dengan pendapat ketiga aliran psikologi tersebut tentang konsep manusia itu sendiri.

ALIRAN BEHAVIORISME
Behaviorisme (Aliran Perilaku) yang disponsori oleh Ivan Pavlov (Rusia), Jhon B.Watson, B.F. Skinner (Amerika), mendasarkan diri pada konsep stimulus-respons. Mereka memandang bahwa ketika dilahirkan, pada dasarnya manusia tidak membawa bakat apa-apa. Manusia akan berkembang berdasarkan stimulasi yang diterimanya dari lingkungan sekitarnya. Mereka berpendapat bahwa upaya rekayasa dan kondisi lingkungan-luar adalah hal yang paling mempengaruhi dan menentukan kepribadian manusia. Dengan demikian dapat dipahami bahwa psikologi Perilaku ini menganggap manusia pada hakekatnya adalah netral. Baik buruknya perilaku tergantung dari pengaruh situasi dan perlakuan yang dialami. Asumsi-asumsi ini diperoleh melalui eksperimen-eksperimen dengan hewan dengan tujuan untuk mengetahui pola dasar perilaku manusia dan proses perubahannya. Usaha-usaha ilmiah itu dianggap sebagai reaksi terhadap psikologi analisis (yang wawasan-wawasannya sering dianggap terlalu hipotesis dan intuitif dengan teori-teorinya yang konon kurang didukung oleh temuan-temuan riset empiris).

Setiap bentuk tingkah laku manusia dapat ditelusuri di luar peristiwa kesadaran (tanpa menyentuh masalah kesadaran). Maka diri manusia disebut sebagai kompleks reflek-refleks, atau mesin reaksi belaka. Lingkungan yang buruk akan menghasilkan manusia buruk.  Lingkungan  yang baik akan menghasilkan manusia yang baik.

Pandangan semacam ini memberikan penekanan yang sangat besar pada aspek stimulasi lingkungan untuk mengembangkan manusia dan kurang menghargai faktor bakat atau potensi alami manusia, maka satu-satunya yang menentukan adalah lingkungannya.

Terhadap Aliran Perilaku atau Behaviorisme ini, kritik dapat diarahkan pada pengingkaran terhadap potensi alami yang dipunyai manusia. Padahal secara empirik perbedaan individual antara manusia satu dengan manusia lain begitu banyak terlihat. Ketika bayi dilahirkan sudah terdapat perbedaan antara anak yang satu dengan anak yang lain. Ketika masih bayi, ada anak yang pandai tersenyum sementara anak yang lain lebih suka mengatupkan bibirnya. Perbedaan individual adalah sebuah kenyataan yang diingkari oleh Behaviorisme.
           
Di samping itu aliran ini mempunyai kecenderungan untuk mereduksi manusia. Bahkan menurut pandangan ini manusia tak memiliki jiwa, tak memiliki kemauan dan kebebasan untuk menentukan tingkah lakunya sendiri. Manusia laksana benda mati. Malik B. Badri, seorang psikolog Muslim yang populer dengan bukunya Dilema Psikolog Muslim juga mengecam kecendrungan reduksionistis yang menganggap perilaku manusia yang sangat unik dan majemuk itu tak ubahnya sebagai “mesin” yang bekerja karena menerima faktor-faktor penguat berupa ganjaran dan hukuman. Kompleksitas dalam diri manusia dipandang secara simplistis oleh Behaviorisme.

Kritik lain terhadap aliran ini adalah anggapannya terhadap manusia sebagai makhluk hedonis yang memiliki motif tunggal untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan fisik dan lingkungan sosial dengan sikap mementingkan ke-kini-an  dan  ke-disini-an (here and now). Padahal, lebih dari sekedar menyesuaikan diri dengan lingkungan, manusia mampu mengatur kehidupan dirinya dan lingkungannya. Dengan kemampuan mengatur bahkan menaklukkan lingkungan, maka manusia mampu melakukan revolusi atau perubahan secara besar-besaran terhadap arah sejarah bangsa manusia. Padahal lebih dari sekedar mencari kenikmatan, manusia juga berkehendak untuk mengabdikan dirinya pada Tuhannya dengan tulus, ikhlas dan penuh kepasrahan.

Menurut DR. Jalaluddin, hampir seluruh ahli jiwa sependapat bahwa sesungguhnya apa yang menjadi keinginan dan kebutuhan manusia itu bukan hanya terbatas pada kebutuhan makan, minum, pakaian ataupun kenikmatan-kenikmatan lainnya.

Berdasarkan hasil riset dan observasi, mereka mengambil kesimpulan bahwa pada diri manusia terdapat semacam keinginan dan kebutuhan yang bersifat universal. Kebutuhan ini melebihi kebutuhan-kebutuhan lainnya, bahkan mengatasi kebutuhan akan kekuasaan. Keinginan akan kebutuhan tersebut merupakan kebutuhan kodrati, berupa keinginan untuk mencinta dan dicintai Tuhan.

Dalam hal perilaku keagamaan, behaviorisme menyamakan dengan perilaku lain, yaitu merupakan ungkapan bagaimana manusia dengan pengkodisian peran belajar hidup di dunia yang dikuasai oleh hukum ganjaran dan hukuman (reward and punishment). Salah satu tokoh aliran Behaviorisme ini adalah Skinner. Skinner menolak mekanisme internal dan eksternal untuk menjelaskan perilaku dan pengalaman keagamaan. Ucapan seperti “saya merasa suka pergi ke tempat ibadah” dipandang dari sudut pengertian Behaviorisme tidak berbicara apa-apa. Apakah perasaan menjadi penyebab orang pergi ke tempat ibadah atau Tuhan yang membangkitkan perasaan untuk pergi ke tempat ibadah    itu? Masalah pokoknya menurut Skinner adalah orang yang bersangkutan mengetahui apa yang terjadi dengan orang yang suka pergi ke tempat ibadah itu yakni memperoleh kepuasan. Bisa pula karena ia sendiri punya pengalaman yang memuaskan ketika pergi ke tempat ibadah. Faktor pengalaman yang memberikan kepuasan itulah yang mendorongnya pergi ke tempat ibadah dan tidak pergi ke tempat lain. Dalam pandangan Skinner kegiatan keagamaan diulangi karena faktor penguat sebagai perilaku yang meredakan ketegangan.

Di samping Skinner, J.B.Watson mengatakan bahwa aksi dan reaksi manusia terhadap suatu stimulus hanyalah dalam kaitan dengan prinsip reinforcement (reward and punishment). Manusia tidak mempunyai will power.  Ia hanyalah sebuah robot yang mereaksi secara mekanik atas pemberian hukuman dan hadiah. Dengan demikian  konsep Tuhan tidak masuk sama sekali di dalam konteks Behaviorisme.

Watson begitu yakin bahwa penentu kehidupan manusia adalah faktor-faktor eksternal yang mengenai manusia itu. Dan faktor eksternal itu sama sekali bukan Tuhan, karena Tuhan tidak pernah masuk dalam konsep Watson. Dengan pandangannya yang radikal seperti itu, Watson dapat dipandang melecehkan manusia, dan terutama ia mengabaikan kekuasaan Tuhan atas diri manusia.

Memperhatikan uraian di atas, sebagian sisi-sisi kelemahan Behaviorisme telah dapat terungkap, sehingga para psikolog dan pendidik Muslim perlu lebih berhati-hati.


ALIRAN PSIKOANALISIS
Sementara itu, Psikoanalisis, aliran Psikologi yang dikembangkan oleh Sigmund Freud (1856 - 1939) seorang neurolog dari Austria, keturunan Yahudi,  berpandangan bahwa manusia adalah makhluk yang hidup atas bekerjanya dorongan-dorongan (id) dan memandang manusia sangat ditentukan oleh masa lalunya. Id adalah komponen yang alami pada manusia, sementara Superego (hati nurani) terbentuk karena adanya interaksi individu dengan lingkungan sosialnya.

Melalui analisa terhadap jiwa, yaitu via psikoanalisa, Freud berusaha menembus kedalaman dari ketidak-sadaran, lalu mengenali macam-macam dorongan dan sisi-sisi lainnya yang ada dalam ketidak-sadaran. Dalam ketidak-sadaran itu terus menerus beroperasi dorongan-dorongan dan tenaga-tenaga asal. Semuanya merupakan penampilan dari libido-seksualitas atau dorongan kelamin. Oleh karena itu, orientasi psikoanalisa ialah pan-seksualistis.

Teori Freud yang mengungkapkan bahwa satu-satunya hal yang mendorong kehidupan manusia adalah dorongan id (libido seksualitas) adalah teori yang mendapatkan tantangan keras. Sebab  menurutnya dalam libido  seksualitas, seseorang berusaha mempertahankan eksistensinya karena bermaksud memenuhi hasrat seksualnya. Teori semacam ini dipandang sebagai menyederhanakan kompleksitas dorongan hidup yang ada dalam diri manusia. Dalam kaca pandang Psikologi Humanistik, teori Freud ini hanya menjelaskan adanya kebutuhan yang paling mendasar dari manusia, yaitu kebutuhan fisiologis dan tak mampu memberikan penjelasan untuk keempat kebutuhan manusia yang lain.

Teori Freud ini akan mengalami kesulitan untuk menjelaskan kebutuhan seseorang akan aktualisasi diri atau juga kebutuhan untuk beragama. Teori ini tak mampu menjelaskan tentang dorongan yang dimiliki Muslim untuk mendapatkan ridha dari Allah.SWT.

Apabila dicermati lebih lanjut pendapat Freud, maka dapat dikatakan bahwa dalam diri manusia tidak ada kebaikan yang bersifat alami atau biologis. Ketika  lahir ia hanya mempunyai nafsu/libido/id dan sama sekali tidak mempunyai dorongan-dorongan kebaikan atau hati nurani. Hati nurani (yang mewakili nilai-nilai kebaikan) lahir bersamaan dengan tumbuh kembangnya individu  dalam  masyarakat.   Karena  itu  dalam pandangan Freud dorongan beragama bukanlah suatu dorongan yang alami atau asasi, melainkan dorongan yang tercipta karena tuntutan lingkungan. 

Dalam kaitannya dengan perilaku beragama, lebih lanjut Freud melihat bahwa agama itu adalah reaksi manusia atas ketakutannya sendiri.  Dalam bukunya Totem and Taboo Freud mengatakan bahwa Tuhan adalah refleksi dari Oedipus Complex, kebencian kepada ayah yang dimanifestasikan sebagai ketakutan kepada Tuhan.

Freud mengungkapkan bahwa agama dalam ciri-ciri psikologisnya adalah sebuah ilusi, yakni kepercayaan yang dasar utamanya adalah angan-angan (wishfulfillment). Manusia lari kepada agama disebabkan oleh ketidak berdayaannya menghadapi bencana (seperti bencana alam, takut mati, keinginan agar manusia terbebaskan dari siksaan manusia lainnya, dan sebagainya).

Dari penjelasan di atas dapat diungkapkan bahwa orang melakukan tindakan  keagamaan semata-mata didorong oleh keinginan untuk menghindari dari keadaan bahaya yang akan menimpa dirinya dan memberikan rasa aman bagi diri sendiri. Untuk keperluan itu manusia menciptakan Tuhan dalam pikirannya. Tuhan yang diciptakannya sendiri itulah yang akan disembahnya. Sementara bagaimana ritual penyembahan terhadap Tuhan sangat tergantung dari contoh-contoh yang diperlihatkan oleh orang-orang yang terlebih dahulu melakukannya.

Tokoh lain yang berpendapat hampir sama dengan Freud adalah  Fredrick Schleimacher.  Schleimacher berpendapat perilaku keagamaan itu muncul dalam diri seseorang karena adanya sense of depend (rasa ketergantungan yang mutlak). Dengan danya rasa ketergantungan yang mutlak ini manusia merasakan dirinya lemah. Kelemahan ini menyebabkan manusia selalu tergantung kehidupannya kepada sesuatu kekuasaan yang berada di luar dirinya. Berdasarkan rasa ketergantungan inilah timbul konsep tentang Tuhan. Ditambahkannya lagi, bahwa manusia merasa tak berdaya menghadapi tantangan alam yang selalu dialaminya, makanya mereka menggantungkan harapannya kepada sesuatu kekuasaan yang mereka anggap mutlak adanya. Berdasarkan konsep ini timbullah upcara-upacara untuk meminta perlindungan kepada kekuasaan yang diyakini dapat melindungi mereka. Rasa ketergantungan ini menyebabkan manusia merasa lemah, tunduk dan pasrah kepada sesuatu yang diyakininya sebagai tempat bergantung.

Rasa ketergantungan ini dapat dibuktikan dalam realitas upacara keagamaan dan pengabdian para penganut agama kepada sesuatu kekuasaan yang mereka namakan Tuhan. Dengan demikian baik Freud maupun Schleimacher sama-sama berpendapat bahwa Tuhan / agama adalah hasil ciptaan manusia dalam pikirannya sendiri. 

Uraian tentang manusia dan perilaku beragamanya, sebagaimana dikemukakan oleh Freud lalu ditambah dengan pendapat Fredrick Schleimacher,  adalah suatu konsep yang sangat jauh dari realitas. Suatu konsep yang dapat menyesatkan kehidupan manusia. Sebab sebagaimana yang telah ditemukan oleh para ahli jiwa, bahwa beragama merupakan kebutuhan asasi manusia yang telah ada bersamaan dengan lahirnya seseorang. Jadi bukan hasil interaksi manusia dikemudian hari. 

Selain pendapatnya di atas,  Psikoanalisis juga memiliki konsep yang terlalu menekankan pengaruh masa lalu (masa kecil) terhadap perjalanan hidup manusia. Konsep ini perlu dipertimbangkan. Sebab jika pendirian atau pendapat ini diterima, maka kita telah terjebak dalam pesimisme yang mendalam terhadap segenap upaya pengembangan diri manusia. Itu berarti upaya pendidikan tidak perlu dilakukan sebab tidak memiliki pengaruh. Seakan-akan Psikoanalisa berpendapat, seseorang yang masa kecilnya kelam, niscaya tidak ada lagi harapan baginya untuk hidup secara normal.  

ALIRAN HUMANISTIK
Karena adanya keragu-raguan yang mendasar terhadap Aliran Perilaku (Behaviorisme) dan Psikoanalisa, maka sejumlah ahli menganjurkan untuk memperhatikan aliran ketiga, yaitu Psikologi Humanistik.

Aliran yang dipelopori oleh Abraham H. Maslow dan Carl Ransom Rogers ini sangat menghargai keunikan pribadi, penghayatan subyektif, kebebasan, tanggung jawab, dan terutama kemampuan mengaktualisasikan diri pada setiap individu. Bahkan Logoterapi, suatu ragam Psikologi Humanistik yang ditemukan seorang neuro psikiater Yahudi-Austria  Viktor E. Frankl, mendapatkan acungan jempol oleh Malik M. Badri  (Psikolog Muslim),  sebagai pendekatan psikologis yang optimis dan banyak kesesuaiannya dengan prinsip-prinsip Islam maupun pandangan masyarakat Timur tentang manusia.

Akhirnya begitu banyak psikolog Muslim yang terpesona dengan Psikologi Humanistik. Bahkan sebagian Psikolog Muslim menganggap Psikologi Humanistik mewakili suara Islam pula.

Secara selintas Psikologi Humanistik mempunyai pandangan bahwa pada dasarnya manusia adalah baik dan bahwa potensi manusia adalah tidak terbatas. Pandangan ini tidak menekankan atau mendewakan masalah kuantitatif, mencoba tidak terpenjara dan tidak terperangkap oleh dualisme subyek-obyek, dan mengakui kesamaan antar manusia. Akan tetapi  bila  ditelaah  lebih lanjut,  akan   ditemui   begitu   banyak kejanggalan-kejanggalan. Pandangan ini sangat optimistik dan bahkan terlampau optimistik terhadap upaya pengembangan sumber daya manusia sehingga manusia dipandang sebagai penentu tunggal  yang mampu melakukan  play-God ( peran Tuhan).

Sebagai penutup dari pembahasan ini dapatlah ditarik kesimpulan bahwa ketiga aliran Psikologi Modern di atas yakni Behaviorisme, Psikoanalisa dan Psikologi Humanistik walaupun telah menyajikan uraian dan pembahasan secara ilmiah, namun tetap memiliki celah-celah kelemahan. Apalagi jika celah-celah tersebut ditinjau menurut kacamata Islam, sebagai dasar dan pedoman hidup Muslim. Karena itu sangat dianjurkan agar para Psikolog dan Pendidik Muslim untuk berhati-hati dalam menerapkan konsep-konsep psikologi terutama dalam bidang pendidikan agar anak didik  tidak menjadi korban dari kesalahan konsep-konsep psikologi yang diaplikasikan.

Konsekwensi lain adalah hendaklah para peminat psikologi dan para pendidik Muslim menggali konsep-konsep psikologi tersebut dari sumber-sumber yang sangat diyakini kekokohannya, dalam hal ini adalah Al Quran dan Hadis. Namun ini merupakan suatu tantangan besar bagi kita semua.




Jika Anda Menyukai Artikel ini Mohon KLIK DISINI dan sebarkan pada yang lain melalui jejaring di bawah ini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar