Minggu, 07 Oktober 2012

Posisi Nafsu Seksual dalam Daftar Ibn Miskawaih



Pengertian al Nafs
Dalam masalah al Nafs, Ibn Miskawaih bertumpu pada ajaran spritualistis tradisional Plato dan Aristoteles dengan kecenderungan Platonis. Ibn Miskawaih mengatakan bahwa al Nafs berasal dari limpahan akal aktif. Al Nafs bersifat ruhani, suatu substansi sederhana yang tidak dapat diraba oleh salah satu panca indra. Ia (dapat) mencerap hal-hal yang sederhana dan kompleks, yang ada di hadapan atau yang tidak ada, yang dirasakan atau yang difikirkan.
Pandangan dasar Ibn Miskawaih adalah bahwa manusia akan menjadi baik atau buruk sangat tergantung kepada bagaimana ia mengelola al nafsnya. Hal ini nampak bertentangan dengan pandangan empirisme yang menganggap bahwa baik dan buruknya manusia itu ditentukan oleh lingkungannnya. Walaupun demikian, menurut Ibn Miskawaih, faktor lingkungan dapat mengotori al Nafs manusia sehingga ia dapat berbuat keburukan. Untuk menjaga agar al Nafs itu tetap dalam posisi suci, maka akal manusia berposisi sebagai alat kontrol.
Al Nafs oleh Ibn Miskawaih dikatakan sebagai suatu substansi yang berada di dalam tubuh tetapi berbeda dengan tubuh dan tidak bergantung pada Jasmani. Al Nafs itu berada pada zatnya dan ia merupakan sesuatu yang paling berharga dan ciptaan paling utama dari segala sesuatu yang bersifat jasmani dan materi. Al Nafs mempunyai sifat dan tindakan yang berbeda / berlawanan dengan sifat dan tindakan jasmani. Al Nafs itu menerima segala bentuk sesuatu baik sesuatu yang empirik maupun yang hanya dapat dinalar.
Selanjutnya Ibn Miskawaih berpendapat, al Nafs adalah sesuatu dalam diri manusia yang berbeda dengan fisik. Ia bukan tubuh, bukan bagian dari tubuh dan bukan pula bentuk. Sesuatu itu tidak dapat berganti-ganti dan berubah-ubah. Ia mengetahui sesuatu dalam derajat yang sama, tidak pernah menyusut, tidak pernah melemah dan tidak pernah berkurang. Al Nafs juga mempunyai aktivitasnya sendiri yang berbeda dengan perbuatan dan karakteristik tubuh, sehingga dalam satu dan lain hal ia tidak dapat berada bersama-sama dengan tubuh. Oleh karena itu, perbedaan antara al Nafs dengan tubuh berbeda pada substansinya, penilaiannya, sifat dan tingkah lakunya.
Kecenderungan al Nafs pada ilmu pengetahuan merupakan suatu keniscayaan, dan keberpalingan dari tingkah laku tubuh, merupakan kebajikan atau  keutamaannya. Oleh karena itu, keutamaan seseorang diukur dengan sejauhmana dia mengupayakan dan mendambakan kebajikan. Keutamaan ini semakin meningkat, ketika dia semakin memperhatikan al Nafsnya yang berusaha keras menyingkirkan segala yang merintangi pencapaian keutamaan itu. Rintangan itu dapat bersifat badani, inderawi serta yang berhubungan dengan keduanya. Sedangkan keutamaan itu sendiri tidak mungkin dapat tercapai kecuali setelah manusia suci dari perbuatan-perbuatan keji yakni perbuatan yang mementingkan hal-hal yang bersifat jasmani/materi.

Karakteristik al Nafs
Al Nafs mempunyai tiga potensi yang saling tarik menarik, satu dengan yang lainnya saling mengalahkan, hal ini dapat diupayakan dengan adanya tiga macam al Nafs manusia. Bilangan potensi ini didasarkan akan kekuatan pada umumnya. Tiga potensi/ kekuatan ini ialah al Nafs / jiwa cerdas atau al Nafs Aktif, al Nafs pemarah atau al Nafs Binatang Buas, dan al Nafs Binatang ternak atau nafsu syahwat.
Al Nafs yang pertama adalah yang paling utama/mulia, dan ini dimiliki oleh para filosof, ulama dan orang bijak. Al Nafs yang kedua adalah yang pertengahan. Perumpamaan al Nafs yang kedua adalah para diktator, orang yang zalim dan orang yang suka menumpahkan darah. Al Nafs yang ketiga adalah yang paling rendah tingkatannya. Perumpamaan al Nafs yang ketiga adalah orang yang mendekatkan diri pada kegelapan, para pencopet dan lainnya. Masing-masing kekuatan ini  mempunyai derajat/ peringkat yang banyak, maka sebagian binatang peringkatnya lebih mulia dan sebagainya. Sedangkan manusia dengan kemauannya, ikhtiarnya dan perbuatan-perbuatannya dapat menjadi (setingkat) malaikat atau binatang buas ataupun menjadi binatang ternak ataupun menjadi lebih rendah dari itu semua. Keadaan yang demikian itu merupakan orang-orang yang derajatnya paling rendah dan hina. Ketiga al Nafs itu dapat menjadi satu kesatuan, namun demikian ketiganya masih dapat berubah-ubah dan saling bertentangan.
Dengan menyandarkan pada pendapat para pendahulunya, Ibn Miskawaih mengatakan bahwa al Nafs itu pada hakekatnya satu namun memiliki kekuatan/potensi yang banyak. Sedangkan filosof lain berpendapat bahwa jiwa itu pada substansinya adalah satu namun dalam dimensi penampilannya adalah banyak. Sedangkan jiwa aktif (cerdas) pada hakekatnya adalah mulia dan terdidik, ia bagaikan emas dalam aspek kelunakan dan kelenturannya. Kekuatannya ada tiga, yakni : kesadaran, hafalan dan reflek. Sedangkan jiwa pemarah, maka ia tidak mempunyai etika atau kesopanan, namun jiwa ini dapat menerima etika dan kesopanan dan dapat pula menolaknya. Sedangkan jiwa kebinatangan pada hakekatnya ia menolak etika dan tidak mau menerimanya. Manusia dengan upaya jiwa aktifnya dan itu dalam Islam disebut al Nafs Lawwamah dapat menguasai al Nafs ‘Amarah yang didalamnya terdapat dua kekuatan pula, yakni al Nafs pemarah dan al Nafs kebinatangan; bahkan manusia juga dapat menggunakan/ memanfaatkan kekuatan atau nafsu pemarah untuk menguasai kekuatan/nafsu kebinatangan. Para manusia dahulu kala telah berkata, di antara ketiga nafsu ini bagaikan seorang yang mengendarai kuda sembari memimpin anjing untuk berburu ke hutan.  
Jikalau seseorang manusia baik (berkat al Nafs/jiwa cerdasnya) dalam melatih kuda dan anjingnya (yakni al Nafs kebinatangan dan al Nafs pemarahnya) maka ia akan hidup dalam kesejahteraan dan penuh kebajikan serta dapat melakukan fungsi hidupnya secara baik, meskipun keduanya terkadang mogok atau pun lari tak terkendali. Misalnya pengendaranya dapat mengatasinya demikian pula seandainya anjingnya meronta-ronta dan lepas dari rantainya.
Upaya/ rekayasa al Nafs (jiwa) aktif/kecerdasan atau nafsu mulia menjadikan manusia meraih keutamaan, kebaikan dan kebahagiaan dan pengabdian terhadap al Nafs mulia tersebut. Namun apabila al Nafs pemarah dan nafsu kebinatangan menguasasi dirinya maka ia akan menemui penderitaan, kekacauan di dunia dan di akhirat. Sedangkan al nafs/jiwa yang mulia itu bagaikan permata merah delima, barang siapa menyia-nyiakannya maka ia telah menghilangkannya, maka pada substansinya ia telah merugi.

Pembagian al Nafs
Ibn Miskawaih mengatakan bahwa al nafs itu terdiri dari tiga bagian, yaitu : 1. Al Nafs al Nathiqah, yaitu bagian yang berkaitan dengan berfikir, melihat dan mempertimbangkan realitas segala sesuatu. Bagian ini disebutnya raja yang mempergunakan organ tubuh otak. 2. Al Nafs al Sabu’iyah, yaitu bagian yang terungkap dalam marah, berani dalam menghadapi bahaya, ingin berkuasa, menghargai diri dan menginginkan bermacam-macam kehormatan. Bagian ini mempergunakan organ tubuh jantung. 3. Al Nafs al Bahimiyah, bagian yang membuat manusia memiliki nafsu syahwat dan makan, keinginan pada kenikmatan-kenikmatan inderawi lainnya. Bagian ini menggunakan organ tubuh hati.
Ketiga bagian tersebut akan terrefleksi pada diri manusia dalam bentuk keutamaan dan kejelekan. Oleh karena itu jika aktifitas jiwa rasional dari al Nafs al Nathiqah memadai dan tidak keluar dari jalur dirinya, dan mencari pengetahuan  yang benar, maka akan tercapailah kebajikan pengetahuan diiringi kebajikan kearifan dan inilah yang disebut sebagai kebaikan mulia. Jika al Nafs al Subu’iyah memadai dan dikendalikan oleh al Nafs al Natiqah tidak menentangnya, maka akan muncul sikap sederhana (‘iffah) yang diikuti kebajian dermawan. Demikian pula apabila al Nafs al bahimiyah mematuhi segala aturan yang ditetapkan  al Nafs al Natiqah, maka ia akan muncul  kebajikan sikap sabar yang diiringi kebajikan sikap berani. Jika ketiga bagian ini berkumpul secara serasi maka akan muncul suatu kesempurnaan sejati yang oleh Ibn Miskawaih disebut sifat keadilan.
Menurut Ibn Miskwaih, al Nafs manusia mempunyai tiga kekuatan yang bertingkat-tingkat dari yang paling rendah sampai paling tinggi, yaitu : 1. Al Quwwah al Syahwiyyah 2. Al Quwwah al Ghadhabriyyah  3. Al Quwwah al Nathiqah. Satu diantara tiga ini dengan kekuatannya dapat menguasai yang lainnya dan menjadi penguasa. Maka perlu adanya persatuan dan keterikatan antara ketiganya. Namun kesatuan itu terjadi dalam kondisi tertentu dan tetap berbeda dalam kondisi yang lain, tergantung pada bergolak atau tenangnya kapasitas-kapasitas jiwa. Ibn Miskawaih berkata :
“Para pemikir klasik menyamakan manusia dan kondisi ketiga al Nafsnya ini dengan seseorang yang menunggang kuda yang kuat seraya membawa anjing pemburu. Kalau dia dapat menjinakkan kuda dan anjingnya, jika dia memerintahkan keduanya, lalu serta merta mereka pun mentaatinya, baik dalam perjalanan, ketika berburu maupun dalam aktifitas lainnya, tak pelak lagi niscaya ketiganya akan hidup bahagia berdampingan. Orang itu akan mendapatkan apa yang diinginkan dengan nyaman. Kudanya akan berlari kemana ia suka. Anjingnya begitu pula. Kalau dia mau berhenti untuk istirahat, dia tidak akan repot. Kedua hewannya akan dilepas begitu saja. Dia akan memperhatikan dengan baik makanan dan minuman kedua hewannya itu, dan melindunginya dari serangan musuh. Tetapi kalau al Nafs binatang yang berkuasa, maka kondisi ketiganya akan berantakan. Dalam hal ini seperti manusia yang ditaklukkan oleh kedua hewan peliharaannya. Oleh karenanya akan kita lihat, kudanya tidak akan mentaati tuannya dan malahan menguasainya. Akibatnya bila hewan ini melihat rumput di kejauhan ia akan segera bergegas memburunya. Dengan dungu ia akan menghampiri musuhnya. Atau menyimpang dari jalan yang dituju.

TENTANG IBN MISKAWAIH



Jika Anda Menyukai Artikel ini Mohon KLIK DISINI dan sebarkan pada yang lain melalui jejaring di bawah ini 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar