Rabu, 07 November 2012

Nama Mesjid, Siapa yang Salah?



Ini bukan soal mesjid siapa, juga bukan soal salah siapa. Melainkan tentang sepenggal cerita perjalananku dari Lubuk Sikaping ke Pekanbaru yang kulakukan pada hari Selasa tanggal 23 Oktober 2012. Untuk satu keperluan pribadi yang mendesak. Berangkat menjelang pukul 18.00 WIB dengan mengendarai sepeda motor dalam guyuran hujan lebat, hanya mengantarku sejauh lebih kurang tiga puluh lima kilometer saat azan magrib dikumandangkan.

Aku berhenti di sebuah mesjid yang terletak di pinggir jalan di daerah Bonjol. Satu wilayah yang telah memahatkan sebuah cerita penting dalam rangkaian sejarah berdirinya Negara Indonesia, sebagai lokasi perjuangan heroik seorang pahlawan nasional yang bernama Tuanku Imam Bonjol.


Di sanalah aku berhenti sejenak, tepatnya di Jorong Pandam Kanagarian Limo Koto Kecamatan Bonjol Kabupaten Pasaman. Di sebuah mesjid berpagar besi, berlantai satu dengan sebuah kubah besar di atasnya. Mesjid tersebut bernama “AL TAQWA”, sebagaimana kulihat pada plank nama yang terletak dibagian atas bangunan mesjid itu.


 Selepas magrib kembali kubertolak menembus hujan, melanjutkan perjalanan sepanjang 350 kilometer. Alhamdulillah, nasib baik lagi berpihak kepadaku, tak sampai satu jam ku berjalan hujannya telah mulai reda. Ketika melewati Bukittinggi hujan sudah berhenti sama sekali.

Tak banyak yang bisa kuceritakan dari perjalanan di malam itu. Dengan sistim berkendara yang mementingkan rem daripada gas, membuatku tak begitu terganggu dengan kehadiran kendaraan lain. Dengan fokus konsentrasiku hanya pada jalan, telah membuat suasana alam sekitar yang tak terlihat di kegelapan menjadi terabaikan.

Empat setengah jam berjalan tanpa istirahat, kembali mengajakku untuk berhenti. Saat itu pukul 23.43 WIB, aku telah memasuki Kabupaten Kampar sejak hampir satu jam sebelumnya. Kupilih sebuah mesjid agar kubisa shalat isya. Tempatnya di Salo menjelang memasuki Kota Bangkinang, Komplek Batalyon Infantri 132/Bima Sakti. Masjid “AT TAQWA”, demikian tertulis pada plank nama yang menghadap jalan.

 
Di mesjid inilah kudapatkan pertanyaan yang kujadikan judul tulisan ini. Tanpa bermaksud menjustifikasi, karena aku bukan ahli ilmu nahu, juga tidak memahami kaedah bahasa Arab. Namun menurutku sepertinya ada masalah pada nama mesjid tempatku pertama singgah di hari itu.

Sebagai referensi mungkin dapat kita lihat, dari seratus empat belas nama surat dalam al Quran enam diantaranya berawalan dengan huruf T yaitu At Taubah, At Taghaabun, At Tahrim, At Takwir, At Tiin dan At Takaatsur. Keenamnya berimbuhan AT, bukannya AL sebagaimana nama surat yang huruf awalnya bukan T. Bahkan nama surat yang dimulai dengan TH pun tambahannya juga ATH, seperti Ath Thuur, Ath Thalaaq dan Ath Thaariq. Jadi rasanya tidak beralasan jika dipaksakan menambahkan AL pada kata TAQWA. Kurasa demikian. Sampai ada penjelasan dari yang lebih ahli.

Akhirnya aku sampai di tujuan pada pukul 01.30 WIB malam itu. Dengan menyimpan sebuah rencana untuk memotret kedua mesjid tersebut saat ku kembali.




Jika Anda Menyukai Artikel ini Mohon KLIK DISINI dan sebarkan pada yang lain melalui jejaring di bawah ini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar