Jumat, 14 Desember 2012

Inilah Penyebab Bupati Garut Mengawini ABG Belasan Tahun


Oleh : Syamsuddin

elsaelsi.com @ Dalam beberapa tahun terakhir telah banyak berita-berita perkawinan kontroversial yang disuguhkan ke hadapan kita. Beberapa diantaranya sempat membuat heboh, tidak saja di ranah media dan internet, tapi merasuk ke lapisan-lapisan terjauh di masyarakat kita.
Aku tidak bisa memastikan, kenapa sebuah perkawinan bisa sedemikian menghebohkannya. Mungkin saja hanya karena rasa iri orang-orang yang tak suka membayangkan ketika yang bersangkutan mendapatkan sebuah kesenangan baru. Tapi yang jelas karena perkawinan itu telah menyentuh area-area sensitif.

Diawali oleh perkawinan Syeh Puji dengan Ulfa di Bedono Ambarawa, Jawa Tengah. Seorang kiai paruh baya yang kaya raya menikahi gadis dua belas tahun, murid kelas 8 SMP Negeri Bawen di Kecamatan Klepu, Kabupaten Semarang pada saat itu. Kita semua heboh, sama-sama membicarakan hal yang sama. KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) turun tangan. Polisi bergegas menjalankan tugasnya. Mengantarkan kiai pengantin baru itu ke penjara.
Padahal sepanjang yang kusadari, rasanya belum pernah KPAI merekomendasikan pemenjaraan para germo, baik yang memajang dagangannya di lokalisasi maupun di pangkalan truk. Sebab dari stok yang siap pakai, jangankan yang berusia 12 tahun, di bawah itupun tersedia.
Lalu muncullah AA Gym, da’i kondang dari Bandung Jawa Barat. Ketika beliau menambah teman tidurnya dengan yang tahun tinggi. Kembali kita heboh, ratusan tulisan dirilis. Semua orang bersuara. Mulai dari rakyat biasa di majelis-majelis taklim, sampai menteri dalam kabinet. Berpendapat menurut isi kepalanya masing-masing. Bahkan ada yang kebablasan sampai melontarkan tuduhan zina terhadap kiai yang menikah secara sah itu. Nauzubillah.
Kini giliran bupati Garut yang membuat kita heboh. Ketika foto-foto perkawinannya menjadi konten di dunia maya. Para netter menjadi narasumber media massa. Dalam sekejap sang bupati telah menjadi bintang berita.
Perkawinan yang ini memang bukan sebuah perkawinan biasa. Konon kabarnya berlangsung pada tanggal 14 Juli yang lalu. Sebagai lanjutan dari upaya sang bupati mengirim utusan ke Pesantren Al Fadlilah di Kampung Ciseureuh Limbangan Timur Garut. Utusan tersebut memiliki satu tugas pokok : mencarikan isteri untuk bupati.
Gadis yang beruntung itu adalah Fani Oktora (meskipun tak seberuntung bupatinya), seorang gadis santri berusia delapan belas tahun yang mondok di pesantren tersebut, nyaris menjadi ketua Dharmawanita Kabupaten Garut. Kalau saja tidak ditalak melalui SMS oleh sang bupati empat hari setelah pernikahannya.
Semua itu jelas saja membuat banyak orang tidak mengerti. Apa sebenarnya motivasi sang bupati atau yang menyebabkannya sampai kebelet ingin kawin lagi?
Banyak hal yang patut diduga sebagai penyebab perkawinan aneh bupati dengan ABG belasan tahun ini. Kondisi pisah ranjangnya dengan isteri yang telah berlangsung selama delapan belas bulan, sebagaimana pengakuan utusan bupati Garut ke pesantren Al Fadlilah yang kubaca di salah satu tabloid gosip, mungkin salah satunya. Walaupun mendapat bantahan, selaku lelaki normal rasanya hal itu cukup masuk akal. Yang tetap tak masuk akal hanyalah bertahannya empat hari perkawinan itu.
Kalau kukatakan karena bupati kita ini seorang pengamal ilmu gaib, sebagai sebab lainnya. Rasanya aku terlalu berlebihan. Karena tak ada data pendukung yang kumiliki. Meskipun salah satu alasan beliau menjatuhkan talak, masih menurut tabloid gosip, adalah ketika pandangan batinnya menangkap sejalur garis putih yang merentang mulai dari tengkuk sampai ke pinggul isteri mudanya itu, yang disinyalirnya sebagai penyakit raja singa. Sementara tidak ada orang lain yang bisa melihat, termasuk dokter yang memeriksanya. Pandangan batin seperti itu, apalagi kalau bukan ilmu gaib.
Dulu aku pernah punya seorang teman. Baru mendapat sebuah mantra dari gurunya. Mantra tersebut harus diamalkan ketika berhubungan badan dengan seorang perawan. Harus dilakukan berkali-kali dalam kelipatan ganjil, tiga, lima, tujuh, sembilan, dan seterusnya hingga tak terbatas. Khasiat pengetahuan kuno itu adalah untuk awet muda, katanya. Konon, temanku itu telah mendapatkan tujuh orang perawan. Nauzubillah. Ketika ku bertemu dengannya beberapa tahun lalu, nampaknya dia tetap bisa menua sesuai usianya.
Aku tak sedang ingin mengatakan kalau Bupati Garut ini saudara sepeguruan dengan temanku itu. Tapi menuduh jandanya Fani Oktora tidak perawan lagi sebagai alasan lain penjatuhan talaknya telah memperlihatkan obsesi bupati kita ini untuk mendapatkan perawan. Siapa tahu itu yang menyebabkan beliau ingin kawin lagi. Daripada harus jatuh kepada zina. Meskipun kembali kutegaskan, kalau ini hanyalah tuduhan tak berdasar terhadap sang bupati, yang sama tak berdasarnya dengan tuduhan tak perawan lagi untuk menceraikan terhadap Fani Oktora.
Namun yang pasti, hanya satu penyebab yang kita bersama bisa menerimanya. Bupati kita ini memutuskan untuk kawin lagi adalah karena namanya. Sebagaimana kita bersama sudah sepakat (bagi yang belum sepakat silahkan membantah), modal dasar atau faktor pendukung yang signifikan untuk melaksanakan perkawinan ada dua, yang pertama ‘uang’ yang agak banyak, seorang bupati tentu saja memiliki banyak uang. Dan yang kedua, harus ‘ngaceng', Bupati Garut ini tentu saja juga memilikinya, disamping umurnya yang baru empat puluh tahun, namanya saja sudah ngAceng HM Fikri.





Jika Anda Menyukai Artikel ini Mohon KLIK DISINI dan sebarkan pada yang lain melalui jejaring di bawah ini 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar