Kamis, 30 Maret 2017

Ahok Ternyata Beragama Islam



Oleh : Syamsuddin

elsaelsi.com (@) Semula aku mengenal Ahok atau Basuki Tjahaja Purnama hanya sebagai Wakil Jokowi di Gubernuran DKI Jakarta, yang akhirnya menjadi Gubernur setelah Jokowi meninggalkan posnya untuk posisi yang lebih tinggi : Presiden!

Akhirnya kuketahui rupanya Ahok adalah satu figur yang sangat populer. Upayanya membenahi Jakarta setiap saat menjadi sorotan. Baik positif maupun negatif. Apalagi setiap kebijakannya yang rada berani bahkan terkadang kontroversial.

Tapi yang membuatku terkesan dengan Ahok hanya satu : rupanya ada pula Ahok yang punya hubungan dengan masa laluku!


Adalah Kak Siu Fong, seorang wanita Tionghoa penjual Mie Tiaw yang berusia 34 tahun, belum menikah dan dia suka pada seorang temanku yang pernah berteman dengan adik perempuannya.

Kak Siu Fong tinggal di Kijang, sebuah kota kecamatan yang terletak sekitar 28 kilometer dari Kota Tanjungpinang, Pulau Bintan Provinsi Kepulauan Riau.

Semenjak adik perempuannya yang kawannya aku punya teman itu menikah, kami sering mampir di tempatnya Kak Siu Fong. Meskipun kadang-kadang tanpa keperluan yang berarti, hanya sekedar ‘ngobrol’ sembari makan otak-otak, salah satu kuliner khas Tanjungpinang yang dijual di warungnya.

Satu hal yang tak bisa kulupakan dari Kak Siu Fong adalah ketika dia bermaksud mengirimku ke Malaysia sebagai TKI, ketika temanku menanyakan mengenai pekerjaan untukku.

Kak Siu Fong punya kawan, seorang lelaki setengah baya warga Negara Malaysia yang berprofesi tauke buah di Kuala Lumpur. Lelaki tersebut sering datang ke Kijang mengunjungi Kak Siu Fong, karena dia menyukainya dan sudah sejak lama mengajak Kak Siu Fong untuk menikah. Melalui lelaki itulah rencananya aku dititipkan, biar untuk sementara bisa bekerja dengannya.

Tapi rencana pemberangkatanku itu batal, lantaran aku belum memiliki paspor. Lagi pula aku tak begitu serius menanggapi ide tersebut.

Lantas apa hubungannya dengan Ahok? Sebenarnya sih nggak ada, hanya saja setiap aku mendengar Ahok membuatku selalu ingat Kak Siu Fong. Demikian pula sebaliknya, setiap kali kuingat Kak Siu Fong selalu ada yang kupikirkan tentang Ahok. Itu disebabkan oleh satu hal yakni mereka sama-sama warga keturunan asal Belitung.

Kalau memakai istilah temanku yang disukai Kak Siu Fong, ‘Kak Siu Fong itu Cina Bangka, orang Tionghoa yang tidak bisa berbahasa Mandarin, mereka menggunakan bahasa Kek, bahasa Cina yang susah dimengerti oleh orang yang menggunakan bahasa Mandarin.’

Sementara aku tak pernah tahu, apakah Ahok juga tak bisa bahasa Mandarin. Sebagai bukti betapa minimnya perbendaharaan informasiku tentang Ahok.

Tapi untuk yang satu ini adalah info valid yang tak terbantahkan, sebuah fakta yang baru terungkap : Ahok yang ini ternyata seorang muslim atau Islam.

Informasi itu termaktub dalam sebuah hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi dan ath-Thabarani dalam al-Mu’jamul Kabir yang bunyinya : “Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah sampai dia fasih (berbicara), maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi”.

Mencermati hadits tersebut maka timbullah beberapa pertanyaan, kenapa yang disebutkan hanya Yahudi, Nasrani dan Majusi, sementara kenapa Islam tidak disebutkan? Apakah tidak ada peran orang tua untuk mengislamkan anak-anaknya? Pertanyaan itu hanya akan terjawab dengan menyadari bahwa pada dasarnya seluruh manusia itu diciptakan dalam keadaan Islam atau fitrah kebaikan. Termasuk saudara kita Ahok. Hanya saja orang tuanya telah membelokkannya menjadi non-muslim.

Semenjak kapan Ahok menganut Islam? Mengenai hal ini Allah telah memfirmankan dalam al-Qur’an surat Al A’raaf ayat 172 yang artinya : “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) : “Bukankah aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab : Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.”

Berarti Ahok telah menjadi muslim semenjak janinnya berumur 120 hari di rahim ibunya, tatkala ruh ditiupkan ke bakal jasadnya, Allah telah meminta kesaksiannya, dan Ahok langsung menjawabnya : Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.

Ketika membaca draf tulisan ini, salah seorang temanku langsung protes. “Ah, ini hoax!”, katanya. Dan dia langsung menuduhku telah menyebarkan informasi yang mengada-ada, karena menurutnya dalam dasar yang kukemukakan tidak ada disebutkan secara spesifik tentang Ahok. Yang bisa kujelaskan hanyalah bahwa Al Qur’an dan Hadits Nabi itu tidak pernah mengabarkan yang sia-sia dan tak pernah mengada-ada. Keduanya merupakan informasi universal yang berlaku bagi semua manusia dan mengenai seluruh manusia, tak terkecuali Ahok.

Jika Anda juga sependapat dengan temanku itu, sungguh keterlaluan, karena Anda telah menganggap Ahok bukan manusia! Ahok mana yang Anda maksud?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar