Selasa, 11 April 2017

Merasa Lebih Baik dari Orang Miskin Itu Ternyata Lebih Baik



Oleh : Syamsuddin

elsaelsi.com (@) Ayah temanku seorang pejabat eselon II di salah satu SKPD di kotaku. Orangnya dikenal rendah hati, kalau kata orang sekarang lowprofil. Dia suka bergaul dengan masyarakat kelas bawah.

Pakaiannya biasa-biasa saja. Rumahnya hampir sama dengan rumah kebanyakan orang. Mobilnya pun hanya mobil dinas plat merah.

Satu ketika dia membeli gas elpiji 3 kilogram di sebuah pangkalan. Melihat mobilnya yang plat merah dua digit, pemilik pangkalan gas mendekatinya seraya bertanya : ”Untuk dipakai sendiri, Pak?” 
 

“Ya. Memangnya kenapa, Mas?”

“Kok nggak pakai yang 12 kilogram saja, Pak?” Pemilik pangkalan itu balik bertanya.

“Menurut saya, pakai yang ini jauh lebih hemat. Kita harus membiasakan hidup hemat. Ya, kan?”

“Benar, Pak. Tapi gas 3 kilogram ini kan hanya diperuntukkan bagi masyarakat miskin.”

“Itulah masalahnya, selama ini kita selalu menganggap diri kita jauh lebih baik dari orang miskin, sehingga kita merasa malu jika memiliki sesuatu yang menurut kita hanya pantas untuk mereka. Kenapa kita harus malu untuk memakan apa yang dimakan oleh orang miskin? Kenapa kita harus malu untuk menggunakan apa yang dipakai oleh orang miskin?”

“Tapi tak termasuk gas elpiji 3 kilogram,” pemilik pangkalan berujar dalam hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar